Metode 70/20/10, Referensi untuk Pelatihan & Pengembangan Karyawan

Fauziannisa Pradana Putri Mar 19, 2021 • 6 min read


Metode 70-20-10 untuk Pelatihan KaryawanSudah pernah mendengar metode pelatihan 70/20/10? Untuk Anda yang berada di bidang SDM, sangat penting untuk memahami salah satu metode pelatihan karyawan ini.

--

Saat ini berbagai perusahaan sudah memiliki referensi pelatihan dan pengembangan karyawan yang beragam. Salah satunya adalah metode 70/20/10 yang masih sering digunakan oleh banyak perusahaan. Dilansir dari trainingindustry.com, lebih dari 500 perusahaan di dunia telah menggunakan metode ini untuk berinvestasi terhadap pengembangan karyawan. 

Apakah model 70/20/10 hanya berfokus pada pengembangan karyawan? Bagi Anda yang masih keliru antara pengembangan dan pelatihan, terdapat perbedaan yang cukup mendasar dari keduanya. Seperti ditulis dari buku Panduan Praktis Menyusun Pengembangan Karier dan Pelatihan Karyawan, pelatihan berfokus pada meningkatkan kompetensi peserta, sedangkan pengembangan merupakan persiapan untuk meniti karier dan tanggung jawab yang lebih besar.

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa model 70/20/10 adalah cara yang dapat digunakan untuk pengembangan karyawan. Dari proses pengembangan itu lah terdapat program pelatihan yang dapat meningkatkan kompetensi atau skill peserta. Agar Anda semakin memahami model ini, berikut adalah penjelasannya. 

Apa Itu Model 70/20/10?

Kutipan yang populer seperti ‘learning is a journey, not destination’ sangat cocok dianalogikan dengan model 70/20/10. Hal tersebut disebabkan proses pembelajaran merupakan sebuah  perjalanan yang dapat ditempuh dengan berbagai cara.

Secara umum, metode 70/20/10 adalah metode yang digunakan untuk pengembangan SDM dengan formula pembelajaran 70% experiential learning, 20% social learning, dan 10% formal learning. Model ini dikembangkan oleh dua tokoh trainer terkenal yaitu, Michael Lombardo dan Robert Eichinger (2000).

Berdasarkan urutannya, yang pertama yaitu 70% pembelajaran dapat dilakukan melalui pengalaman. Dalam artian, peserta akan terjun langsung dengan diberikan tugas atau tantangan. Melalui tugas proyek yang diberikan, peserta diharapkan dapat mengasah kemampuan problem-solving dan juga dapat belajar dari apa yang telah terjadi.

Yang kedua yaitu 20% peserta melakukan pembelajaran secara sosial. Dapat dikatakan, peserta menerima pembelajaran melalui orang lain. Tak mengherankan, apabila bentuk dari proses ini adalah berupa coaching, mentoring, komunitas praktis, dan bahkan dapat menggunakan collaboration platforms.

Terakhir, yaitu 10% pembelajaran peserta dilakukan secara formal learning atau structured learning. Seperti namanya, metode pembelajaran ini memerlukan proses pembelajaran formal di kelas pada umumnya. Misalnya workshop, seminar, online learning, atau melakukan pelatihan. Pembelajaran secara formal dapat memberikan gambaran kepada peserta terhadap materi yang diberikan untuk menunjang experiential learning.

Merancang Model 70/20/10 untuk Program Pengembangan Karyawan 

Training Industry Research menjelaskan bahwa model 70/20/10 digunakan untuk membentuk pengembangan karier bagi para manajer dan executive agar lebih optimal dan sukses. Sebelum adanya survei tersebut, Jay Cross (2011) telah mengatakan dalam bukunya bahwa model 70/20/10 merupakan arahan atau pun ketentuan untuk mengembangkan calon pemimpin. 

Baca juga: 3 Tips Optimalkan Talent Management untuk SDM yang Berkualitas

Berdasarkan research di atas, dapat dikatakan model ini berfokus pada perubahan perilaku dan kinerja karyawan untuk pengembangan karier. Lalu seperti apa model ini dapat dirancang untuk program pengembangan karyawan? Berikut adalah langkah untuk merancang model 70/20/10 dalam pengembangan karyawan

  1. Membuat Program yang Tepat Sasaran

Walaupun dicanangkan sebagai program pengembangan pilihan, tetapi metode ini tidak dapat diterapkan kepada sembarang orang. Anda perlu jeli dan melihat, karyawan mana yang layak dan mampu mengikuti metode 70/20/10 ini. 

Sebagai contoh, Anda perlu memikirkan apakah program ini sesuai dengan budaya perusahaan, latar belakang karyawan, dan lain sebagainya. Misal, bagi karyawan yang cukup inovatif, bisa mendapatkan peluang yang sangat condong ke arah ‘20’ atau pembelajaran social learning. Berdasarkan karakteristiknya, karyawan yang seperti ini senang belajar dengan kolega dan anggota tim, dibandingkan belajar dengan workshop atau pun pelatihan di kelas. 

Maka dari itu, memfokuskan materi pengembangan sesuai dengan kemampuan peserta, dapat mendorong produktivitas program ini berjalan menjadi lebih cepat. 

2. Terapkan Strategi pada Program 

Strategi yang Anda gunakan dapat dibuat menjadi lebih detail dibanding poin yang pertama. Pada langkah ini, Anda harus menunjukan bagaimana mencapai tujuan perusahaan melalui program pengembangan 70/20/10.

Misalnya, jika tujuan perusahaan Anda adalah ingin mengembangkan digital marketing, tim pemasaran mungkin dapat diberi kursus online tentang media sosial, pemasaran email, dan growing web traffic

Setelah itu Anda dapat mengatur social learning dengan memberikan coaching kepada peserta. Anggota tim senior kemudian dapat mendemonstrasikan beberapa prinsip yang dieksplorasi, selangkah demi selangkah sehingga anggota tim sepenuhnya memahami. Terakhir, tim diberi waktu untuk mengembangkan ide mereka sendiri dan menerapkannya sebagai bentuk experiential learning. Metode social learning dapat dijalankan sekaligus dengan experiential learning.

Berdasarkan strategi tersebut, dapat dikatakan bahwa tiga elemen dari 70/20/10 bekerja sama untuk memberi karyawan pemahaman yang menyeluruh tentang topik tersebut. Strategi Anda harus memperlihatkan setiap tujuan dan bagaimana tiga elemen dari rencana 70/20/10 akan digabungkan untuk mencapainya. 

3. Investasikan Menggunakan Alat yang Tepat

Setelah Anda tahu persis apa yang ingin dicapai dan bagaimana ingin mencapainya, sekarang saatnya untuk memikirkan platform atau alat apa yang akan digunakan. 

Menariknya saat ini Anda tidak perlu khawatir untuk membeli rangkaian perangkat lunak program pelatihan. Dengan pesatnya perkembangan teknologi, Anda dapat dengan mudah mengadakan pelatihan sebagai implementasi dari program 70/20/10 ini. Alat yang paling umum digunakan untuk pelatihan karyawan adalah Learning Management System (LMS).

Sistem ini dapat menguntungkan Anda karena konten materi yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Enrollment yang dibuat secara group juga merupakan benefit lain yang bisa Anda rasakan. 

Pengembangan karyawan bukan hanya sekedar training atau pelatihan. Tetapi proses berkelanjutan yang diharapkan mampu menunjang kinerja karyawan. Melalui metode 70/20/10, program pengembangan karyawan dapat menjadi pilihan yang bisa Anda gunakan. 

ruangkerja menjawab kebutuhan perusahaan Anda untuk mengadakan pelatihan yang menyenangkan dan dapat mendukung peningkatan kecerdasan emosional karyawan. Terdapat tiga fitur dengan metode gamifikasi sebagai berikut: 

  1. Rewards point, peserta dapat memperoleh poin yang dapat ditukarkan dengan hadiah sesuai keinginan perusahaan. 
  2. Leaderboards, memicu peserta untuk menyelesaikan pelatihan dengan skor tinggi.
  3. Collaboration, setiap peserta dapat berkolaborasi dengan peserta lainnya melalui forum diskusi.

Gunakan ruangkerja untuk mendapatkan pengalaman program pelatihan karyawan No. 1 di Indonesia hanya dalam satu genggaman.

Pelatihan Karyawan ruangkerja

 

Referensi:

Dewi, Sri Komala dan Agustin Rozalina. (2016). Panduan Praktis Menyusun Pengembangan Karier dan Pelatihan Karyawan. Jakarta: Raih Asa Sukses.

elearningindustry.com. (2019). 6 Ways The 70 20 10 Model Can Help You Achieve Your Employee Development Goals Faster. https://elearningindustry.com/70-20-10-model-achieve-employee-development-goals-faster.

trainingindustry.com. (2019). Research deconstructing: 70:20:10. https://trainingindustry.com/content/uploads/2019/09/Deconstructing_702010_Preview.pdf.

Beri Komentar