Pentingnya Emotional Intelligence di Dunia Pekerjaan

Fega Andriana Jul 6, 2018 • 13 min read


emotional intelligence

20 tahun terakhir, muncul konsep kecerdasan emosional (EQ) sebagai cara untuk menggambarkan seperangkat keterampilan berpikir. Intinya bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup.
--

Biasanya, Intelligent Quotient (IQ) dijadikan sebagai tolak ukur kecerdasan dan kesuksesan seseorang. Faktanya, tes IQ saja tidak cukup untuk menggambarkan hal tersebut. Karena itu peneliti memperluas definisi kecerdasan untuk memasukkan seperangkat keterampilan yang lebih luas.

Topik tentang peran emosi dan pengaruhnya dalam dunia pekerjaan sering menjadi perbincangan. Membahas tentang emosi di dunia pekerjaan, ada hal yang disebut emotional intelligence. Konsep emotional intelligence pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Peter Salovey dan John Mayer di sebuah artikel pada tahun 1990 yang kemudian populer lewat buku yang ditulis oleh Daniel Goleman Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ.

Emotional intelligence yang berkualitas cukup diperhitungkan di dunia pekerjaan agar setiap individu di dalam perusahaan dapat memberikan hasil kerja yang berkualitas. Sederhananya, baik atau tidaknya pekerjaan yang Anda lakukan secara tidak langsung dipengaruhi oleh kualitas emotional intelligence yang Anda miliki.

emotional intelligence

Emotional intelligence adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan dan memahami emosi (baik emosi orang lain maupun emosi diri sendiri) dengan tujuan meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Seseorang dengan emotional intelligence yang baik mampu mengontrol emosi saat marah, peka terhadap perasaan orang lain, dsb.

Dalam keberhasilan kerja, kecerdasan intelektual hanya menyumbang 4%. Kemampuan akademik bawaan, nilai tes, dan kelulusan pendidikan tinggi tidak bisa memprediksi seberapa baik kinerja atau kesuksesan yang akan dicapai seseorang. Sebaliknya, kecakapan khusus seperti empati, disiplin, dan inisiatif, dapat memengaruhi keberhasilan kerja.

Kecerdasan emosional menentukan seberapa baik seseorang dalam menggunakan keterampilan yang dimiliki, termasuk keterampilan intelektual.

Kecerdasan emosional menurut Goleman adalah kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

Baca juga: Cara Efektif Mengembangkan Interpersonal Skill Karyawan Melalui Online Learning

Dalam bukunya yang berjudul “Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ” Goleman juga menyebutkan 5 indikator kecerdasan emosional, yaitu:

emotional intelligence

1. Self-awareness: menyandari perasaan atau keadaan yang sedang orang lain rasakan dan pengaruhnya terhadap orang lain.

2. Self-regulation: menggunakan kemampuan emosional untuk mengatur emosi yang akan memunculkan reaksi atau perilaku tertentu.

3. Internal motivation:  mengambil keputusan sebagai bentuk optimisme, rasa penasaran, dan keinginan untuk mencapai sesuatu.

4. Empathy:  memahami emosi orang lain dan menggunakan kemampuan ini untuk merespon orang lain berdasarkan tingkat emosional.

5. Social skills:  menggunakan kemampuan emosional untuk membangun hubungan sosial yang kuat dengan sekitar.

Setiap orang mempunyai kemampuan emosional yang berbeda. Beberapa orang mempunyai emotional intelligence cukup baik, sementara ada yang menghadapi kesulitan untuk membangun emotional intelligence yang baik. Sebuah penelitian mengemukakan bahwa emotional intelligence yang tinggi jika dibandingkan dengan kemampuan akademik, berdampak pada ketahanan kesehatan fisik dan mental yang dimiliki dan memengaruhi kesuksesan di dunia pekerjaan. Berikut beberapa langkah untuk meningkatkan emotional intelligentce: 

Penuh perhatian dan peduli 

Perhatian dan peduli bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Menanyakan kabar saat melihat salah satu teman yang murung, merupakan suatu tindakan kecil untuk menunjukan bahwa Anda cukup peduli dengan orang-orang sekitar.

Peka terhadap orang-orang di sekitar

Jika kolega kerja Anda sedang terlihat kewalahan dengan tugasnya, ada baiknya Anda bertanya adakah hal yang bisa dibantu untuk meringankan bebannya. Dengan begitu, orang lain akan merasa dibantu dan senang akan kehadiran Anda yang sangat membantu tugas-tugasnya.

Terdapat  berbagai kemampuan yang dibutuhkan dalam perusahaan agar setiap individu dapat memberikan kinerja yang berkualitas. Untuk itu daftarkan perusahaan Anda ke pelatihan berbasis LMS ruangkerja dengan mengklik gambar berikut ini!

Pelatihan berbasis LMS Ruangkerja

Kecerdasan emosional memiliki beberapa peran penting bagi karyawan dan perusahaan, sebagai berikut:

1. Membentuk tim yang kolaboratif

Kolaborasi mendukung produktivitas di tempat kerja. Ini lebih mudah dilakukan jika anggota tim saling berempati, saling percaya, dan memahami emosi satu sama lain. Anggota tim yang cerdas emosional akan terbuka dan jujur dalam hubungan interpersonal. Mereka terbiasa terbuka dalam meminta bantuan, mengakui kesalahan, berbagi kesulitan, dan menerima perbedaan perspektif yang unik dari masing-masing individu. Dari sini, pengambilan keputusan, penyelesaian tugas, koordinasi, dan kerja sama tim dapat dilakukan secara efisien.

Baca Juga: Strategi Ampuh untuk Pelatihan Manajemen Konflik untuk Karyawan

2. Karyawan yang inovatif

Dinamika kerja yang berubah dengan cepat menuntut siapa saja untuk mampu beradaptasi dan menghadapi perubahan tak terduga. Karyawan yang cerdas emosional memungkinkan mereka memiliki fleksibilitas dan mampu beradaptasi. Ketika menghadapi perubahan, mereka akan bersikap proaktif daripada reaktif. Karyawan yang cerdas emosional berani mengambil risiko, tidak takut melakukan kesalahan, dan mampu mengenali solusi kreatif (inovatif).

3. Tidak rentan terkena stres

American Psychological Association menjelaskan, 65% pekerja mengaku pekerjaan adalah sumber stres utama mereka. Hal ini disebabkan karena beban kerja yang berat, jam kerja yang panjang, serta lingkungan kerja yang tidak sehat. Untuk itu, selain kecerdasan intelektual, karyawan juga harus memiliki kecerdasan emosional. Goleman  menjelaskan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi, dan mengatur keadaan jiwa.

Kecerdasan emosional membantu seseorang untuk bisa mengatur keadaan jiwa dan menghadapi tekanan kerja. Setiap perusahaan pasti ingin karyawannya untuk bisa memberikan kinerja yang baik, memiliki motivasi diri yang tinggi, empati, dan inisiatif. Hal-hal tersebut merupakan keterampilan kecerdasan emosional. Kabar baiknya, kecerdasan emosional adalah keterampilan yang bisa dilatih.

Baca Juga: Menggunakan Prinsip 80 20 Untuk Meningkatkan Produktivitas

13 Cara meningkatkan kecerdasan emosional karyawan

Berikut merupakan beberapa cara untuk meningkatkan level kecerdasan emosional karyawan:

1. Pelatihan online dengan gamifikasi

Empati dan motivasi adalah indikator dalam kecerdasan emosional. Untuk meningkatkan rasa empati dan motivasi karyawan, Anda dapat mendesain sebuah pelatihan dengan games yang dilakukan secara berkelompok. Berikan studi kasus atau masalah yang harus diselesaikan bersama.

Dengan ini, karyawan akan belajar untuk membagi tanggung jawab, mengatasi konflik, berdiskusi, dan memahami perspektif orang lain. Permainan berkelompok ini bisa meningkatkan empati dan juga keterampilan sosial. Selain itu, permainan juga bisa meningkatkan motivasi seseorang untuk memenangkan kompetisi. Gamifikasi dalam pelatihan membuat 84% peserta terlibat dan lebih aktif.

Baca juga: Jadikan Karyawan Lebih Aktif Melalui Gamifikasi di Pelatihan Online

2. Mengembangkan teknik manajemen stres

Karyawan dengan tingkat kecerdasan emosional yang baik mampu mengatasi stres dan emosi negatif lainnya. Mengembangkan teknik manajemen stres dapat meningkatkan kemampuan menangani emosi negatif.

Meditasi telah terbukti efektif untuk menghilangkan stres. Anda dapat memberikan teknik meditasi yang bisa diterapkan karyawan sebagai daily routine untuk mengelola stres. Tak hanya itu, meditasi juga bisa mengurangi depresi, penyakit jantung, dan tekanan darah tinggi. Selain mengurangi stres, meditasi juga bisa membantu karyawan Anda menjadi lebih sehat.

3. Menggunakan diagram alir atau skenario percabangan

Skenario percabangan adalah narasi terbuka yang memungkinkan seseorang untuk membuat pilihan sendiri dan setiap pilihan akan mempengaruhi narasi dan hasil. Ini merupakan taktik yang biasa dilakukan oleh profesional e-learning untuk melatih pengaturan diri yang di dalamnya termasuk pengenalan dan pengelolaan emosi, pengendalian impuls, memotivasi diri, dan pengambilan keputusan.

Dengan cara ini, peserta pelatihan dapat melihat konsekuensi dari setiap pilihan mereka, serta belajar untuk mempertimbangkan pilihan alternatif.

4. Mood journaling

Untuk membantu karyawan belajar mengenali emosi pribadi, Anda bisa mendorong karyawan untuk menuliskan emosinya dalam sebuah jurnal.  Jurnal ini berisi nama emosi, penyebab emosi, reaksi dari emosi yang dirasakan, kesesuaian nama, penyebab dan reaksi, apakah emosi yang muncul perlu solusi atau masih bisa ditoleransi, dan lainnya. Mood journaling ini membantu karyawan untuk mengenali, memberi nama, mengekspresikan, dan menyalurkan emosi. Lakukan juga progress tracking untuk mengetahui progress karyawan dalam pengenalan emosi.

Itulah beberapa cara untuk meningkatkan kecerdasan emosional karyawan. Untuk mengembangkan karyawan yang tangguh, Anda perlu berinvestasi dalam keterampilan kecerdasan emosional seperti, kepemimpinan, kolaborasi, pengambilan keputusan, manajemen konflik, dan motivasi. Hal-hal ini diperlukan perusahaan untuk menghadapi berbagai kondisi dengan keterlibatan, komunikasi, dan kepercayaan dari tiap individu di perusahaan.

Pelatihan kecerdasan emosional merupakan lari marathon, bukan lari cepat. Peningkatan kecerdasan emosional karyawan tidak akan terjadi dalam satu malam. Untuk itu perlu konsistensi dalam proses pelatihannya.

5. Memunculkan rasa ingin tahu yang besar

Mengasah kecerdasan emosional bisa dilakukan dengan cara yang sederhana. Anda bisa memulainya dengan memunculkan rasa penasaran dan ingin tahu terhadap suatu hal. Biasanya dimulai dengan mengajukan pertanyaan 'mengapa' atau 'why'?

Hal yang didapat dari yang Anda lakukan ketika bertanya mengapa adalah jawaban dangkal. Meski begitu, jawaban dangkal itu tidak cukup. Mereka yang memiliki kecerdasan emosional, akan terus bertanya sehingga mereka akan terus mempelajari sesuatu. Pertanyaan muncul dari jawaban dangkal.

Semakin banyak pertanyaan, maka pertanyaan akan sulit dijawab. Demikian terjadi karena pada akhirnya, seringkali ada fakta atau emosi tersembunyi yang memengaruhi jawaban terdalam. Kecerdasan emosional mengharuskan Anda untuk mengidentifikasinya sehingga Anda dapat menilainya.

6. Mempelajari kemampuan diri terhadap waktu

Nggak dipungkiri ada banyak kejadian di luar kontrol Anda dan sering kali membuat Anda tidak bisa menahan diri. Emosi pun mempengaruhi tindakan Anda. Misalnya ketika mendapat kabar revisi dari klien melalui email, Anda pun merasa jengkel karena sudah melakukan perbaikan dengan baik, namun tetap harus revisi.

Belajarlah untuk menunggu satu menit (atau satu jam, atau satu hari) sebelum bertindak. Pasalnya, memberikan jeda pada diri memudahkan Anda dalam mengambil keputusan secara netral.

Orang yang cerdas secara emosional belajar untuk menghargai bahwa tindakan yang lebih lambat memberi ruang untuk pemikiran strategis, dan itu membuat reaksi emosional yang dianggap tidak tepat menjadi tidak terlalu berbahaya.

7. Belajar untuk berhenti ketika sudah waktunya untuk berhenti

Seseorang dengan kecerdasan emosional akan mampu menyadari waktu. Kapan Anda harus bergerak dan kapan harus berhenti. Contoh sederhananya ketika sedang mengerjakan tugas kantor, Anda memiliki pilihan untuk jeda dan beristirahat sebentar untuk mengembalikan tenaga. Lalu Anda tahu waktu kapan untuk mulai kembali.

Sama halnya ketika Anda mengetahui waktu untuk resign dari pekerjaan yang tidak sesuai, atau mengakhiri hubungan yang tidak memuaskan, atau menghentikan ide bisnis yang telah dikembangkan. Berhenti di sini tidak selalu merupakan tanda kegagalan. Sebaliknya, salah satu dari ini bisa berarti awal yang baru.

8. Melatih kemampuan berbahasa

Anda memiliki kebiasaan yang bahkan tidak Anda sadari, terutama kebiasaan berbahasa. Orang yang cerdas secara emosional menyadari hal tersebut. Oleh sebab itu, mereka bekerja keras untuk mengembangkan kebiasaan berbahasa dengan baik. Mereka memahami bahwa pilihan ini kemungkinan besar akan memengaruhi emosi.

Kemampuan berbahasa ini berguna dalam menyampaikan pendapat atau ketika merespons sebuah pernyataan. Orang dengan kemampuan berbahasa yang baik akan memilih ucapan dan memikirkannya terlebih dahulu sebelum disampaikan. Misalnya ketika ada karyawan atau rekan kerja berkeluh kesah dengan masalah dan pekerjaannya. Orang dengan kecerdasan sosial akan memberikan tanggapan dengan bijak dan tidak memotong atau mencela keluh kesah mereka.

9. Belajar mencari kebenaran yang sulit

Sebagai seorang bos sebaiknya mampu menggali kondisi yang sebenarnya terjadi di perusahaan. Sering kali bos hanya mengetahui dari laporan karyawannya, namun tidak mengecek secara langsung kondisi yang terjadi. Seorang bos yang cerdas secara emosional mungkin menempatkan dirinya pada posisi karyawan, dan memikirkan beberapa reaksi emosional yang mungkin muncul dalam tanggapan mereka.

Ada langkah sederhana untuk belajar mencari kebenaran yang sulit, yakni coba berikan tiga pertanyaan mirip secara berbeda dan temukan jawaban. Mintalah karyawan untuk mengungkapkan emosi, asumsi, dan ketidakseimbangan dalam bekerja, lalu biarkan mereka angkat bicara. Mintalah untuk menemukan kebenaran yang sulit.

10. Belajar membedah motivasi seseorang

Cukup sering, Anda belajar menemukan teori kerja. Anda mungkin mengajukan lebih banyak pertanyaan untuk memperjelas, namun seringkali Anda tidak akan membagikan kesimpulan Anda. Namun yang sering terlupa adalah mengetahui motivasi seseorang.

Seringkali seseorang enggan untuk mengetahui kenyataan pahit dari sebuah keputusan. Mereka memilih menghindar dan enggan mengetahuinya. Namun bagi orang dengan kecerdasan emosional, mereka lebih baik mengetahui dibandingkan tidak tahu sama sekali.

11. Belajar berpikir tentang struktur percakapan

Orang sering melakukan percakapan tanpa tujuan yang jelas, atau struktur yang jelas. Seseorang terprogram untuk merespons dengan lebih baik, dan mengingat berbagai hal dengan lebih mudah, jika dikelompokkan menjadi tiga. Jadi, sedapat mungkin, orang yang cerdas secara emosional mencoba membuat tiga poin sekaligus.

Inilah sebabnya mengapa mendiang Steve Jobs mengorganisir hampir setiap peluncuran produk (Macintosh asli, iPod, iPhone, dll.) dengan struktur tiga titik. Dalam hal ini Anda diajak untuk melatih sesuatu hal dan mengelompokkannya dalam tiga bagian, misalnya pembukaan, isi, dan penutup.

12. Belajar menempatkan diri

Obrolan menjadi bagian dari keseharian. Orang dengan kecerdasan emosional yang baik akan bisa menempatkan diri dalam percakapan. Mereka akan bisa menggunakan vokal atau intonasi tinggi-rendah ketika mengobrol dengan lawan bicara.

Latihlah dengan gaya berbicara seperti ketia mengucapkan kalimat deklaratif dengan nada memberi saran, namun sebenarnya Anda sedang melontarkan sebuah pertanyaan.

13. Belajar bersyukur

Jika pada poin pertama Anda diajak untuk melatih rasa penasaran terhadap suatu hal, maka terakhir Anda belajar untuk bersyukur. Orang yang cerdas secara emosional akan berusaha keras untuk menemukan sesuatu yang dapat mereka syukuri.

Belajarlah untuk mengungkapkan terima kasih untuk sesuatu yang Anda tahu akan disetujui oleh pihak lain daripada sesuatu yang mungkin memicu reaksi emosional yang tidak diinginkan.

Pelatihan Karyawan ruangkerja

Profile

Fega Andriana

Beri Komentar