Strategi Ampuh untuk Pelatihan Manajemen Konflik untuk Karyawan

Fauziannisa Pradana Putri Feb 11, 2021 • 9 min read


Manajemen konflik

Dalam menghadapi situasi yang sulit, perusahaan membutuhkan strategi ampuh dalam mengatasi masalah, yaitu dengan memberikan pelatihan manajemen konflik kepada karyawan. Simak penjelasannya di artikel berikut ini!

--

Sulit dihindari, konflik seringkali terjadi di tempat kerja. Contoh konflik yang dihadapi karyawan atau atasan, dan yang sering terjadi di sebuah perusahaan adalah perbedaan-perbedaan sumber daya manusia seperti latar belakang, sosial budaya, sikap, dan sifat dapat memicu timbulnya hal negatif. Hal negatif tersebut baisanya juga memicu dampak yakni mengganggu suasana kerja. Maka dari itu, dibutuhkan strategi untuk mengatasi konflik yang akan menjadi kunci untuk menyelesaikan masalah.

Istilah manajemen berasal dari bahasa Italia ‘Maneggiare' yang berarti melatih kuda-kuda, atau secara harfiah manajemen adalah mengendalikan. Untuk mengatasi masalah, kita perlu mengendalikan konflik.

Dalam dunia bisnis sering disebut manajemen konflik. Manajemen konflik adalah sebuah proses mengelola konflik dengan menyusun sejumlah strategi untuk mendapatkan resolusi yang diinginkan dalam penanganan konflik. Tentunya Anda pun bertanya-tanya, bagaimana cara mengelola manajemen konflik di perusahaan dengan bijak? Berikut adalah penjelasannya.

Upaya Perusahaan dalam Pelatihan Manajemen Konflik 

Manajemen konflik karyawan(Sumber: Freepik.com)

Pelatihan manajemen konflik menjadi komponen penting dari banyaknya program pelatihan. Hal tersebut disebabkan karena kemampuan untuk mengelola dan menyelesaikan konflik yang ada merupakan keterampilan yang membutuhkan pelatihan.

Sebagaimana yang Anda rasakan, konflik pasti akan terus terjadi, dan terkadang dapat menghambat produktivitas yang dirasakan oleh pihak-pihak dalam perusahaan. Dalam jajak pendapat online oleh Next Element, 72 persen responden mengatakan mereka memilih kompromi untuk menghindari konflik.

Data ini mencerminkan adanya hubungan negatif di perusahaan yang disebabkan karena dengan adanya konflik atau karyawan yang terlibat konflik, mereka tidak menyelesaikan masalah dan justru hanya menghindari konflik. Bukan hanya itu saja, hampir tiga perempat karyawan menahan diri karena hal tersebut. Hal ini dapat merugikan salah satu pihak yang berkonflik, atau bahkan karyawan dan atasan akan juga merasakan dampaknya.

Memberikan pelatihan manajemen konflik dapat membantu perusahaan untuk mengatasi kesenjangan dab memecahkan masalah. Dengan memahami bagaimana menyelesaikan setiap masalah yang ada, karyawan akan mampu mengoptimalkan kembali produktivitas yang sempat terhambat dan akan memberikan dampak yang baik bagi semua pihak yang ada dalam perusahaan.

Baca juga: Mengenal Job Enrichment sebagai Metode Pilihan untuk Pengembangan Karyawan

Strategi Pelatihan Manajemen Konflik

Tanpa adanya strategi untuk menyelesaikan konflik yang sedang terjadi, pelatihan karyawan akan kurang optimal. Tentunya Anda tidak ingin hal itu terjadi, bukan? Berikut adalah strategi manajemen konflik yang bisa Anda gunakan saat melakukan pelatihan dengan demikian semua pihak yakni antara atasan dan karyawan dapat menyelesaikannya dengan solusi yang tepat.

  • Susun Program Pelatihan Manajemen Konflik Sesuai Kebutuhan

Pelatihan Manajemen Konflik(Sumber: Freepik.com)

Menyusun sebuah program pelatihan untuk karyawan memang tidak semudah yang dibayangkan. Ada berbagai macam pertimbangan yang sering dilakukan sebelum memutuskan. Begitu pula dalam menyusun pelatihan strategi penyelesaian konflik atau manajemen konflik.

Tim Learning and Development (L&D) yang berada di garis terdepan dalam program pelatihan perlu mengetahui segala kebutuhan perusahaan dan menyesuaikannya dengan program pelatihan. Agar dapat membuat pelatihan yang tepat untuk karyawan perusahaan. Seperti dilansir dari imd.org, memfokuskan program pelatihan sesuai dengan konflik internal perusahaan, akan mendongkrak kebutuhan perusahaan.

Baca Juga: Apa itu LMS dan Manfaatnya Bagi Peningkatan Produktivitas Karyawan

Penyusunan program pelatihan dapat dilakukan dengan menentukan tujuan dan KPI program pelatihan, mengetahui konsep manajemen konflik, menganalisis konflik apa saja yang biasa terjadi pada perusahaan, mengatur jadwal pelatihan, sampai menyusun materi pembelajaran, misalnya mengambil contoh dari konflik di perusahaan A, kemudian menyusun strategi manajemen yang baik untuk menghasilkan solusi yang tepat.

  • Memilih Gaya Manajemen Konflik yang Cocok untuk Pelatihan


RK_-_5_gaya_manajemen_konflik_untuk_karyawan_3-01

Seperti ditulis dalam jurnal Local Development Training Academy Nepal, dalam manajemen konflik, terdapat 5 gaya pendekatan yang dapat dipilih oleh Tim L&D dalam membuat program pelatihan. Berikut adalah bagaimana cara mengatasi konflik:

  1. Kolaborasi atau colaborating merupakan gaya ini mengharuskan pihak yang berkonflik bersama-sama mengidentifikasi masalah, menimbang, dan memilih solusi. Berbeda dari acomodating, cara ini lebih memerhatikan kepentingan bersama. Seluruh pihak yang berkonflik kerjasama dalam menyelesaikan masalah dan menurunkan egonya sendiri-sendiri, memikirkan bagaimana keuntungan dapat diterima oleh seluruh pihak, dan menyusun strategi yang efektif. Sehingga dapat menyelesaikan konflik dengan memuaskan semua pihak. Hasilnya pun akan dinikmati bersama.

  2. Mengakomodasi atau acomodating merupakan usaha berupa mengecilkan perbedaan sambil menekankan kesamaan di antara kedua belah pihak peserta. Strategi ini dilakukan dengan cara meminta bantuan pihak ketiga, mengumpulkan banyak orang, berbagai pendapat pihak atau siapa saja yang terlibat dalam konflik yang terjadi.

  3. Bersaing atau competing adalah cara yang digunakan dengan mengarahkan pihak yang terlibat konflik bersaing dan memenangkan kepentingan masing-masing. Seperti namanya gaya ini menunjukkan perhatian yang tinggi pada kepentingan diri sendiri dan kurang memperhatikan kepentingan orang lain. Sehingga mendorong taktik 'Saya menang, kamu kalah'. Memunculkan dampak ada yang menang dan ada yang kalah. Namun hal ini tidak memberikan keuntungan kepada seluruh pihak, yang mengarahkan konflik baru maka akan menyebabkan masalah yang tidak selesai.

  4. Menghindari atau avoiding adalah sebuah upaya untuk menghindari sebuah konflik. Menurut strategi ini, konflik tidak harus selalu dihadapi. Bagi Anda yang ingin menggunakan gaya ini, fasilitator akan mengarahkan peserta dengan tips dan trik untuk menghindari situasi yang mengarah pada hal yang menimbulkan konflik. Hanya saja, gaya ini kurang direkomendasikan dalam sebuah perusahaan karena akan berujung tidak ada penyelesaian masalah. Selain itu, jika para karyawan perusahan menyelesaikan konflik tersebut dengan tidak menghindarinya tentunya akan meningkatkan skill mereka sebagai karyawan. Salah satunya dapat meningkatkan kemampuan para karyawan untuk lebih mampu berpikir logis. Sehingga perusahaan akan mendapatkan keuntungan dengan dapat terus bertahan karena terbiasa mengalami konflik dan mengatasinya. Cara ini dapat dikatakan menjadi pengelolaan konflik yang tidak efektif. Karena tidak ada penyelesaian yang diterima oleh pihak-pihak yang memiliki konflik. Padahal konflik sebaiknya diselesaikan dengan semua pihak yakni antara atasan dan karyawan juga.

  5. Kompromi, gaya ini merupakan pendekatan give and take yang melibatkan perhatian untuk diri sendiri dan orang lain. Semua pihak harus menyerahkan sesuatu yang mereka punya kepada satu sama lain atau antar semua pihak. Baik dalam bentuk perbedaan pendapat atau pun hal yang lainnya. Selain itu, gaya ini dapat menggunakan komunikasi sebagai metode penyelesaian konflik. Kompromi dapat menjadi salah satu sarana yang tepat bagi para karyawan untuk menyepakati solusi dalam menyelesaikan masalah. Karena tidak menyebabkan hal negatif.

Selain melakukan pelatihan manajemen konflik, Anda dapat mengembangkan kemampuan karyawan dengan mendaftarkan karyawan Anda ke pelatihan berbasis LMS ruangkerja dengan mengklik gambar berikut.

Pelatihan berbasis LMS Ruangkerja

Perlu Anda ketahui, kelima gaya tersebut dapat diimplementasikan sekaligus atau dengan hanya memilih salah satu. Hanya saja perlu diimbangi lagi dengan kebutuhan perusahaan. Akan ada berbagai pendapat yang muncul. Apalagi dalam dunia bisnis pertentangan dan perbedaan pendapat sangatlah mungkin. Ada perusahaan yang merasa konflik harus dihadapi. Meskipun dalam konflik tersebut terdapat hal negatif. Hal negatif tersebut biasanya juga memicu dampak yakni adanya perpecahan, kesenjangan memunculkan pendapat yang berbeda-beda dan lain-lain yang akan menimbulkan ketidaknyamanan.

Namun, perusahaan yang memilih untuk menghadapi konflik, akan mendapatkan hal positif, yakni menjadi lebih sigap menghadapi konflik baru dan perusahaan akan berkembang. Tentunya, karyawan akan ikut lebih siap dengan konflik yang terjadi karena karyawan merasa mengetahui cara bagaimana konflik ditangani terlebih dahulu sehingga bisnis akan berjalan dengan baik. Selain itu, baik perusahaan atau karyawan dapat meningkatkan bentuk komunikasi kepada pelaku konflik, dengan berdiskusi langsung atau tidak langsung sehingga dapat membuat hubungan bisnis lebih lancar.

Sementara itu ada yang tidak sepenuhnya setuju, bahkan ada yang berpikir sebaliknya. Ada orang yang tidak memerlukan tenaga untuk menyelesaikan konflik dan memilih untuk mengindarinya karena merasa tidak menghasilkan apapun. Oleh karena itu, mereka memilih mengerjakan yang lain, jika tidak akan mendapatkan apa-apa dari terlibat dengan konflik. Memang pekerjaan dapat lebih efektif, namun karyawan menjadi tidak siap jika menghadapi situasi yang menyebabkan terjadinya konflik, dan hal ini bisa menjadi lebih buruk daripada tidak menghadapi konflik sama sekali bahkan mengancam produktivitas sumber daya manusianya dan dapat memicu hubungan dengan pihak yang terlibat.

  • Menggunakan Metode Pelatihan yang Tepat

Metode Manajemen Konflik

(Sumber: Freepik.com)

Setelah tim L&D memilih gaya manajemen konflik yang akan digunakan, langkah selanjutnya adalah menentukan metode yang tepat. Metode yang tepat akan membantu Anda dalam mengelola pelatihan agar tepat sasaran.

Beberapa metode yang bisa Anda gunakan dapat berupa workshop, bermain peran, brainstorming, simulation game, sampai dengan case study.

Seperti dilansir dari training-sdm.com, metode workshop atau berupa presentasi, biasanya digunakan perusahaan untuk memberikan materi-materi dasar mengenai manajemen konflik. Sedangkan metode lainnya dapat digunakan oleh peserta dengan cara mempraktikannya.

Pelatihan manajemen konflik diharapkan mampu membuat karyawan memiliki pengetahuan dan kemampuan tentang strategi manajemen konflik dan menguasai teknik-teknik bernegosiasi serta mencegah konflik. Dengan begitu, produktivitas perusahaan pun dapat berjalan dengan lancar, walaupun konflik merupakan sebuah realitas yang selalu ada di tempat kerja.

Itulah tiga strategi manajemen konflik yang bisa perusahaan gunakan untuk mengoptimalkan pelatihan. Pelatihan ini dapat membantu perusahaan menjadi jembatan yang ideal untuk meleraikan dan mengelola konflik sehingga menjadi kekuatan untuk mempersatukan perusahaan.

Baca juga: Berikut yang Perlu Diperhatikan sebelum Pelatihan Sales Marketing

Sebagai platform pelatihan nomor 1 di Indonesia, ruangkerja mengerti segala kebutuhan Anda untuk mengadakan pelatihan karyawan yang optimal. Dengan berbagai keunggulan fitur dan teknologi LMS yang digunakan, ruangkerja dapat membantu Anda membuat berbagai pelatihan sesuai kebutuhan perusahaan. Berikut adalah tiga keunggulan ruangkerja.

  • Technology platform

Learning Management System (LMS) berbasis web dan mobile sehingga dapat diakses kapan saja dan dimana saja.

  • Content development

Pembuatan konten pelatihan kustom dengan metode micro-learning berbasis video yang engaging.

  • Program management

End-to-end project management dan operasional untuk implementasi digital training.

Hanya dalam satu genggaman, ruangkerja mampu menjawab kebutuhan perusahaan Anda untuk melakukan pelatihan karyawan secara efektif dan efisien.

   COBA SEKARANG DAN DAPATKAN SERTIFIKAT

 

Profile

Fauziannisa Pradana Putri

Beri Komentar