Bagaimana Pandemi Mendorong Perubahan Keahlian (Skill) Lebih Cepat

Muhammad Azka Rais Apr 6, 2022 • 8 min read


Bagaimana Pandemi Mendorong Perubahan Keahlian Lebih Cepat

Memasuki industri 4.0 terjadi perubahan skill yang dibutuhkan oleh perusahaan. Terlebih ketika pandemi Covid-19 datang, perubahan itu semakin cepat terjadi. Bagaimana perusahaan dan karyawan menyikapinya? Simak artikel berikut!

Kemajuan teknologi memberi kita kemudahan dalam melakukan banyak hal. Mulai dari bekerja, sekolah, belanja, hingga liburan. Di samping itu, kita juga berhadapan dengan berbagai tantangan baru. Pasalnya, kemajuan teknologi mendorong perubahan skill yang harus dimiliki oleh karyawan. Tidak hanya itu, ternyata dengan adanya pandemi Covid-19, dorongan perubahan skill ini menjadi lebih cepat.

Menanggapi hal tersebut, pada hari Rabu 9 Maret 2022, ruangkerja mengadakan webinar dengan tema, “Bagaimana Pandemi Mendorong Perubahan Keahlian (Skill) Lebih Cepat” bersama pemateri Kusuma Adiputra (Senior Manager Sales Capability & Knowledge Management).

Pada webinar tersebut, Adi membahas mengenai perubahan skill yang menjadi lebih cepat karena adanya pandemi Covid-19. Bagaimana permulaan perubahan skill ini, juga bagaimana karyawan dan perusahaan menyikapi hal ini. Dalam artikel ini, anda akan menemui beberapa poin penting yang disampaikan oleh Adi.

Selain terjadinya perubahan skill, terdapat juga perubahan budaya kerja terjadi oleh banyak sekali perusahaan, tak terkecuali ruangguru yang melakukan penyesuaian pada produknya, salah satunya yaitu ruangkerja. 

Tidak hanya menyesuaikan pekerjaan yang harus dilakukan secara jarak jauh menggunakan online meeting, ruangkerja juga menyediakan wadah belajar online berupa webinar yang tersusun dengan rapi. Jika Anda tertarik untuk bergabung, jadwal webinar oleh ruangkerja ada di sini.

 

Perubahan Trend Skill Telah Terjadi Bahkan Sebelum Pandemi 

Perubahan trend skill terjadi sebelum pandemi Covid-19. Yaitu berkaitan dengan otomatisasi dan kecerdasan artifisial. Berdasarkan data yang didapatkan dari McKinsey Global Survey, terdapat 14% karyawan di seluruh dunia, atau berkisar 375 juta orang mau tidak mau harus beralih profesi atau memiliki keahlian (skill) baru pada tahun 2030.

87% eksekutif di seluruh dunia memiliki kesenjangan keahlian pada karyawannya, dan belum siap menghadapi perubahan ini. Kemudian, setidaknya kurang dari 50% eksekutif mengatakan mereka tidak mengetahui dengan jelas bagaimana cara menangani masalah ini.

 

Pandemi Mendorong Perubahan Menjadi Lebih Cepat

Perubahan trend skill sudah terlihat sejak tahun 2017, beberapa tahun sebelum pandemi Covid-19 datang. Belum masalah ini teratasi oleh para eksekutif dan karyawan, pandemi membuat perubahan ini semakin cepat. Pasalnya ketika bekerja kita dipaksa untuk mengurangi interaksi fisik yang memberi risiko ke kesehatan. Memaksa kita menggunakan berbagai macam teknologi untuk bekerja dan beraktivitas.

Boston Consulting Group melakukan survei, dan 41% responden mengatakan bahwa mereka merasa memiliki risiko kehilangan pekerjaan meningkat di tahun terakhir. Sementara itu, 59% responden lainnya mengatakan risiko kehilangan pekerjaan karena otomatisasi tidak berubah atau menurun di tahun terakhir.

 

Bagaimana Trend Perubahan Skill  Pasca Pandemi?

Pada webinar ini, Adi juga menyebutkan perubahan trend skill terjadi pasca pandemi, dikarenakan penyesuaian dunia pekerjaan agar mengurangi risiko terpaparnya penyakit Covid-19. Beberapa di antara perubahannya adalah sebagai berikut:

1. Distance Economy

Hal yang dimaksud oleh distance economy atau ekonomi menjaga jarak adalah yang mengurangi interaksi fisik. Seperti bekerja dari kantor (WFO) menjadi bekerja dari rumah (WFH). Selain itu, para karyawan dan pimpinan pekerjaan harus memiliki skill baru, karena terjadi juga perubahan budaya bekerja. Misalnya ketika sebelum pandemi, pimpinan kerja bisa berinteraksi secara langsung, tapi dikarenakan menjaga jarak, harus memiliki skill komunikasi yang berubah, pasalnya interaksi langsung dengan interaksi online memberikan kesan yang berbeda.

Baca Juga: Bagaimana Menciptakan Keamanan Psikologis dalam Lingkungan Kerja Virtual?

2. Ketidakseimbangan suplai dan permintaan talenta

Perubahan perilaku konsumen secara masif memberikan ketidakseimbangan dalam budaya pekerjaan. Sebelum adanya pandemi, online shopping merupakan hal yang belum ramai digunakan. Begitu pandemi hadir, terjadi lonjakan konsumen yang melakukan kegiatan online shopping (untuk mengurangi interaksi fisik). Yang menjadi persoalan, tidak banyak SDM yang memiliki kemampuan online related atau digital. Padahal perusahaan menjadi membutuhkan SDM yang paham akan digitalisasi. Hal ini menunjukkan ketidakseimbangan suplai dan permintaan.

3. Terjadi perubahan rantai suplai

Untuk mengurangi interaksi fisik (meminimalisasi risiko kesehatan), perusahaan harus mendekatkan tempat produksi dengan konsumen. Hal ini menuntut talenta lokal yang siap untuk kemampuan produksi, mengoperasikan engineering dan sebagainya.

 

Apa Saja Skill yang Dianggap Lebih Prioritas Pasca Pandemi?

Meskipun memasuki era industri 4.0, otomatisasi dan kecerdasan buatan menjadi hal yang memengaruhi budaya pekerjaan, Adi mendapati bahwa skill yang dianggap lebih prioritas pasca pandemi memiliki sifat yang bertolak belakang dengan digitalisasi.

Berdasarkan data dari McKinsey, ternyata skill yang dianggap lebih prioritas pasca pandemi bukanlah kemampuan kita untuk menguasai teknologi, melainkan skill yang sifatnya lebih social - emotional, yaitu kepemimpinan, kemampuan interpersonal dan empati. 

Hal ini terjadi karena banyak karyawan yang tidak mampu bekerja penuh waktu dikarenakan mengurus keluarga atau diri mereka sendiri yang sakit terpapar Covid. Sehingga para pimpinan perusahaan dibutuhkan untuk mampu memahami kondisi mereka. Selain itu, dikarenakan interaksi yang terbatas dan berjarak, membuat mereka harus bekerja jarak jauh, terdapat skill yang harus dikuasai juga yaitu project management.

 

Bagaimana Keinginan Karyawan Untuk Belajar Skill Baru?

Adi berpendapat bahwa 68% karyawan ingin belajar hal baru dalam situasi apapun, salah satu contohnya situasi pandemi. Hal yang mendasari keinginan mereka belajar yang tinggi adalah mekanisme pertahanan hidup, atas pekerjaan mereka yang mulai terancam tergantikan akibat dari pandemi. Sementara itu, sebanyak 28% karyawan belajar bila diperlukan diperlukan saja, dan 4% lainnya merasa tidak ingin belajar.

Jika dilihat dari kelompok umur, rata-rata karyawan yang berada di usia produktif, yaitu usia 21-40 tahun memiliki keinginan untuk belajar skill baru sebesar 71%, sedangkan di usia 41-50 tahun sebesar 67%.

 

Apa yang Mendorong Karyawan untuk Belajar Skill Baru?

Adi mengatakan bahwa hal yang mendorong karyawan untuk belajar skill baru adalah jenis profesi mereka memiliki risiko untuk digantikan oleh kecerdasan buatan atau digitalisasi. Profesi-profesi tersebut di antaranya adalah customer service, administrasi & kesekretariatan, service sector & sales memiliki risiko yang tinggi untuk hilang. Sehingga para karyawan yang bekerja di bidang tersebut mau tidak mau harus belajar skill baru agar dapat memiliki pekerjaan.

 

Bagaimana Perusahaan dan Karyawan Dapat Mendorong Pembelajaran Skill Baru?

Sebagai senior manager sales yang memiliki pengalaman 25 tahun, Adi menyampaikan bahwa perusahaan bersama karyawan dapat bekerja sama untuk menyikapi masalah ini. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan.

  • Identifikasi peningkatan skill (upskill) dan skill baru (reskill) yang diperlukan berdasarkan perubahan perilaku konsumen, model bisnis, proses kerja dan lain-lain. Hal ini akan memudahkan para karyawan untuk mengetahui skill baru apa saja yang harus mereka pelajari.
  • Perusahaan mensponsori proses ‘upskill’ dan ‘reskill’ dengan membantu mengidentifikasi sumber belajarnya (tidak hanya sekedar training di kelas), misalnya menggunakan mobile apps atau pembelajaran berbasis online.
  • Perusahaan mendorong peningkatan skill secara mandiri dan langsung di lapangan, dengan memberikan karyawan kesempatan mengaplikasikan apa yang sudah mereka pelajari.
  • Perusahaan mengapresiasi usaha karyawan untuk belajar. Hal ini dikarenakan karyawan yang baru belajar kemampuan baru dapat membuat berbagai macam kesalahan, sehingga perusahaan dapat memberikan ruang bagi karyawan untuk menerapkan skill barunya agar mereka menguasai skill baru tersebut.

Beberapa hal di atas adalah pemaparan Adi dalam webinar bersama ruangkerja. Apabila anda tertarik untuk melihat penjelasan yang lebih lengkap dan rinci, anda dapat mengakses video lengkapnya melalui Webinar: How Pandemic Drives Worker’s Desire to Learn New Job Skills di bawah ini:

 

 

Salah satu hal yang penting untuk diingat menurut Adi adalah, pandemi membuat perubahan dalam dunia industri. Meskipun pandemi akan berakhir, ternyata perubahan yang terjadi di dalamnya akan terus terjadi

Agar kita tetap siap menghadapi perubahan, kita sebaiknya mengembangkan skill yang dibutuhkan oleh perusahaan. Ruangkerja memiliki fitur-fitur yang dapat membantu Anda mempelajari skill baru, yaitu sebagai berikut:

1. Rewards point, peserta dapat memperoleh poin yang dapat ditukarkan dengan hadiah sesuai keinginan perusahaan.
2. Leaderboards, memicu peserta untuk menyelesaikan pelatihan dengan skor tinggi. 
3. Collaboration, setiap peserta dapat berkolaborasi dengan peserta lainnya melalui forum diskusi.

 

Pelatihan Karyawan ruangkerja

 

Profile

Muhammad Azka Rais

Penulis yang tertarik pada topik pendidikan, parenting, sains, dan kesehatan mental. Suka banget nulis fiksi, masak, nonton film, TV series dan anime. Suka juga main game sama cari-cari info tentang kehidupan alien, peradaban kuno, sama hantu.

Beri Komentar