Pentingnya Kecerdasan Emosional Bagi Karyawan dan Cara Meningkatkannya

Devi Lianovanda Apr 1, 2021 • 6 min read


kecerdasan-emosional-karyawan

Mengenal kecerdasan emosional mulai dari pengertian, indikator, pentingnya bagi karyawan, dan cara meningkatkannya.

--

Biasanya, Intelligent Quotient (IQ) dijadikan sebagai tolak ukur kecerdasan dan kesuksesan seseorang. Faktanya, tes IQ saja tidak cukup untuk menggambarkan hal tersebut. Karena itu peneliti memperluas definisi kecerdasan untuk memasukkan seperangkat keterampilan yang lebih luas.

20 tahun terakhir, muncul konsep kecerdasan emosional (EQ) sebagai cara untuk menggambarkan seperangkat keterampilan berpikir. Intinya bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup.

fakta-kecerdasan-emosional-daniel-goleman

Dalam keberhasilan kerja, kecerdasan intelektual hanya menyumbang 4%. Kemampuan akademik bawaan, nilai tes, dan kelulusan pendidikan tinggi tidak bisa memprediksi seberapa baik kinerja atau kesuksesan yang akan dicapai seseorang. Sebaliknya, kecakapan khusus seperti empati, disiplin, dan inisiatif, dapat memengaruhi keberhasilan kerja.

Kecerdasan emosional menentukan seberapa baik seseorang dalam menggunakan keterampilan yang dimiliki, termasuk keterampilan intelektual.

Kecerdasan emosional menurut Goleman adalah kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

Baca juga: Cara Efektif Mengembangkan Interpersonal Skill Karyawan Melalui Online Learning

Dalam bukunya yang berjudul “Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ” Goleman juga menyebutkan 5 indikator kecerdasan emosional, yaitu:

5-indikator-kecerdasan-emosional-menurut-daniel-goleman

Kenapa kecerdasan emosional karyawan sangat penting?

Kecerdasan emosional memiliki beberapa peran penting bagi karyawan dan perusahaan, sebagai berikut:

1. Membentuk tim yang kolaboratif

Kolaborasi mendukung produktivitas di tempat kerja. Ini lebih mudah dilakukan jika anggota tim saling berempati, saling percaya, dan memahami emosi satu sama lain. Anggota tim yang cerdas emosional akan terbuka dan jujur dalam hubungan interpersonal. Mereka terbiasa terbuka dalam meminta bantuan, mengakui kesalahan, berbagi kesulitan, dan menerima perbedaan perspektif yang unik dari masing-masing individu. Dari sini, pengambilan keputusan, penyelesaian tugas, koordinasi, dan kerja sama tim dapat dilakukan secara efisien.

2. Karyawan yang inovatif

Dinamika kerja yang berubah dengan cepat menuntut siapa saja untuk mampu beradaptasi dan menghadapi perubahan tak terduga. Karyawan yang cerdas emosional memungkinkan mereka memiliki fleksibilitas dan mampu beradaptasi. Ketika menghadapi perubahan, mereka akan bersikap proaktif daripada reaktif. Karyawan yang cerdas emosional berani mengambil risiko, tidak takut melakukan kesalahan, dan mampu mengenali solusi kreatif (inovatif).

3. Tidak rentan terkena stres

American Psychological Association menjelaskan, 65% pekerja mengaku pekerjaan adalah sumber stres utama mereka. Hal ini disebabkan karena beban kerja yang berat, jam kerja yang panjang, serta lingkungan kerja yang tidak sehat. Untuk itu, selain kecerdasan intelektual, karyawan juga harus memiliki kecerdasan emosional. Goleman  menjelaskan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi, dan mengatur keadaan jiwa.

Kecerdasan emosional membantu seseorang untuk bisa mengatur keadaan jiwa dan menghadapi tekanan kerja.

Setiap perusahaan pasti ingin karyawannya untuk bisa memberikan kinerja yang baik, memiliki motivasi diri yang tinggi, empati, dan inisiatif. Hal-hal tersebut merupakan keterampilan kecerdasan emosional.

Kabar baiknya, kecerdasan emosional adalah keterampilan yang bisa dilatih.

 

Cara meningkatkan kecerdasan emosional karyawan

Berikut merupakan beberapa cara untuk meningkatkan level kecerdasan emosional karyawan:

1. Pelatihan online dengan gamifikasi

Empati dan motivasi adalah indikator dalam kecerdasan emosional. Untuk meningkatkan rasa empati dan motivasi karyawan, Anda dapat mendesain sebuah pelatihan dengan games yang dilakukan secara berkelompok. Berikan studi kasus atau masalah yang harus diselesaikan bersama.

Dengan ini, karyawan akan belajar untuk membagi tanggung jawab, mengatasi konflik, berdiskusi, dan memahami perspektif orang lain. Permainan berkelompok ini bisa meningkatkan empati dan juga keterampilan sosial. Selain itu, permainan juga bisa meningkatkan motivasi seseorang untuk memenangkan kompetisi. Gamifikasi dalam pelatihan membuat 84% peserta terlibat dan lebih aktif.

Baca juga: Jadikan Karyawan Lebih Aktif Melalui Gamifikasi di Pelatihan Online

2. Mengembangkan teknik manajemen stres

Karyawan dengan tingkat kecerdasan emosional yang baik mampu mengatasi stres dan emosi negatif lainnya. Mengembangkan teknik manajemen stres dapat meningkatkan kemampuan menangani emosi negatif.

Meditasi telah terbukti efektif untuk menghilangkan stres. Anda dapat memberikan teknik meditasi yang bisa diterapkan karyawan sebagai daily routine untuk mengelola stres. Tak hanya itu, meditasi juga bisa mengurangi depresi, penyakit jantung, dan tekanan darah tinggi. Selain mengurangi stres, meditasi juga bisa membantu karyawan Anda menjadi lebih sehat.

3. Menggunakan diagram alir atau skenario percabangan

Skenario percabangan adalah narasi terbuka yang memungkinkan seseorang untuk membuat pilihan sendiri dan setiap pilihan akan mempengaruhi narasi dan hasil. Ini merupakan taktik yang biasa dilakukan oleh profesional e-learning untuk melatih pengaturan diri yang di dalamnya termasuk pengenalan dan pengelolaan emosi, pengendalian impuls, memotivasi diri, dan pengambilan keputusan.

Dengan cara ini, peserta pelatihan dapat melihat konsekuensi dari setiap pilihan mereka, serta belajar untuk mempertimbangkan pilihan alternatif.

4. Mood journaling

Untuk membantu karyawan belajar mengenali emosi pribadi, Anda bisa mendorong karyawan untuk menuliskan emosinya dalam sebuah jurnal.  Jurnal ini berisi nama emosi, penyebab emosi, reaksi dari emosi yang dirasakan, kesesuaian nama, penyebab dan reaksi, apakah emosi yang muncul perlu solusi atau masih bisa ditoleransi, dan lainnya. Mood journaling ini membantu karyawan untuk mengenali, memberi nama, mengekspresikan, dan menyalurkan emosi. Lakukan juga progress tracking untuk mengetahui progress karyawan dalam pengenalan emosi.

 

Itulah beberapa cara untuk meningkatkan kecerdasan emosional karyawan. Untuk mengembangkan karyawan yang tangguh, Anda perlu berinvestasi dalam keterampilan kecerdasan emosional seperti, kepemimpinan, kolaborasi, pengambilan keputusan, manajemen konflik, dan motivasi. Hal-hal ini diperlukan perusahaan untuk menghadapi berbagai kondisi dengan keterlibatan, komunikasi, dan kepercayaan dari tiap individu di perusahaan.

Pelatihan kecerdasan emosional merupakan lari marathon, bukan lari cepat. Peningkatan kecerdasan emosional karyawan tidak akan terjadi dalam satu malam. Untuk itu perlu konsistensi dalam proses pelatihannya.

ruangkerja menjawab kebutuhan perusahaan Anda untuk mengadakan pelatihan yang menyenangkan. Terdapat tiga fitur dengan metode gamifikasi sebagai berikut: 

  1. Rewards point, peserta dapat memperoleh poin yang dapat ditukarkan dengan hadiah sesuai keinginan perusahaan. 
  2. Leaderboards, memicu peserta untuk menyelesaikan pelatihan dengan skor tinggi.
  3. Collaboration, setiap peserta dapat berkolaborasi dengan peserta lainnya melalui forum diskusi.

Gunakan ruangkerja untuk mendapatkan pengalaman program pelatihan karyawan No. 1 di Indonesia hanya dalam satu genggaman.

Pelatihan Karyawan ruangkerja

Referensi:

Holz, Susannah. 2017. ‘How Online Course Can Nurture Emotional Intelligence’ [daring]. Tautan: https://blog.neolms.com/how-online-courses-can-nurture-emotional-intelligence/ (Diakses pada: 30 Maret 2021)

Asare, Janice Gassam. 2018. ‘How To Develop More Emotionally Intelligent Employees’ [daring]. Tautan: https://www.forbes.com/sites/janicegassam/2018/07/27/how-to-develop-more-emotionally-intelligent-employees/?sh=704582e56f10 (Diakses pada: 30 Maret 2021)

Williams, Hope. 2020. ‘Emotional Intelligence in the Workplace: Be Collaborative, Be Innovative, Be Authentic’ [daring]. Tautan: https://trainingindustry.com/articles/leadership/emotional-intelligence-in-the-workplace-be-collaborative-be-innovative-be-authentic/ (Diakses pada: 30 Maret 2021)

Premium Coaching. ‘Daniel Goleman Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ (1995)’ [daring]. Tautan: https://www.premiumcoaching.be/uploads/images/emotiona%20intelligence%20Daniel%20Goleman.pdf (Diakses pada: 30 Maret 2021)

Beri Komentar