Memahami Strategi Kepemimpinan dalam Bisnis di Era VUCA

Vindiasari Yunizha Okt 16, 2021 • 7 min read


RK_-_Memahami_Strategi_Kepemimpinan_dalam_Bisnis_Era_Vuca-01

Bisnis di era VUCA membawa ketidakpastian dan tantangan yang unik. Apa itu VUCA? Dan bagaimana strategi kepemimpinan yang tepat untuk menyiasatinya?

---

Saat ini, VUCA bukan lagi sekadar konsep, melainkan telah terjadi di kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan berbisnis atau berkarier. Apa itu VUCA? VUCA adalah singkatan dari Volatility, Uncertainy, Complexity, Ambiguity. Bisa diartikan bahwa Vuca merupakan gabungan situasi, mulai dari volatilitas (volatility), ketidakpastian (uncertainy), kompleksitas (complexity), dan ambigu (ambiguity). 

Ungkapan VUCA berasal dari teori kepemimpinan yang berkembang dalam pelatihan kepemimpinan United State Army War College. Teori tersebut pertama kali dijelaskan oleh Warren Bennis dan Burt Nanus pada 1987. VUCA sendiri menjadi gambaran untuk menunjukkan kondisi yang terjadi usai perang dingin. Kini konsep tersebut pun berkembang hingga ke perusahaan dan bisnis. 

Tak sedikit pelatihan kepemimpinan dalam perusahaan maupun bisnis melibatkan adanya konsep VUCA. Harapannya, pemimpin maupun pebisnis mampu menguasai perencanaan strategis yang dapat digunakan untuk menghadapi kondisi yang kompleks dan penuh ketidakpastian. Oleh karena itu, tak heran apabila VUCA sendiri menjadi keterampilan yang harus dimiliki oleh banyak orang. 

Pengertian VUCA

amy-hirschi-K0c8ko3e6AA-unsplash

Sumber: Amy Hirschi on Unsplash

Mengenal pengertian Vuca secara mendalam mampu memberikan dampak positif bagi para pemimpin. Dalam memimpin sebuah perusahaan, dibutuhkan strategi khusus untuk mampu bertahan dengan kondisi yang terus berkembang. Adapun pengertian dari masing-masing akronim VUCA adalah sebagai berikut:

Volatilitas (Volatility)

Volatility (atau volatilitas) merupakan kondisi di mana adanya perubahan  dari situasi A ke situasi B. Situasi yang berubah tersebut bukan terencana, melainkan tidak teratur dan sifat perubahannya cepat. Karakter dari kondisi volatilitas adalah tantangan yang tak terprediksi sampai kapan durasinya, kendati demikian tantangan tersebut tidak cukup sulit untuk ditangani jika memiliki pengetahuan. 

Volatilitas kerap dijadikan sebagai tantangan ataupun peluang. Hal tersebut bisa terjadi bergantung strategi yang diambil dari para pemimpin atau karyawan dalam menghadapi atau melakukan adaptasi dalam hal volatilitas. 

Ketidakpastian (Uncertainty)

Ketidakpastian (uncertainty) lebih jauh dijelaskan pada kondisi yang tidak bisa ditebak di mana informasi yang ada kurang spesifik. Informasi yang berasal dari masa lalu dianggap kurang relevan untuk situasi sekarang. Dengan begitu, perlu ada strategi baru yang beriringan dengan inovasi. 

Kompleksitas (Complexity)

Situasi yang kompleks memiliki karakteristik yang unik, yakni kondisi di mana pemimpin dihadapkan pada banyak faktor dan variabel yang saling berhubungan. Sesuatu kejadian bisa diprediksi, tetapi dalam proses mengatasinya butuh strategi tersendiri.

Contoh: ketika menjalankan bisnis yang tersebar di berbagai negara. Setiap negara punya kebijakan dan regulasi masing-masing. Pendekatan yang bisa digunakan adalah mulai berpikir untuk membuat struktur baru dan sumberdaya manusia yang bisa membantu mengatasinya. 

Ambigu (Ambiguity)

Karakter dari kondisi ambigu adalah perkembangan yang tak terarah atau cenderung semakin membingungkan. Tidak ada kejelasan dan sangat sulit untuk diprediksi hingga memunculkan adanya beragam penafsiran. 

Kondisi VUCA tergambar jelas pada situasi dunia yang berubah secara tiba-tiba pada saat pandemi Covid 19. Semua sektor perusahaan dan lini bisnis terdampak adanya perubahan yang sangat drastis selama pandemi Covid-19. Situasi yang tidak pasti tersebut, para pemimpin perusahaan atau organisasi dituntut untuk bisa beradaptasi dan mengambil tindakan untuk melanjutkan atau mempertahankan bisnisnya. 

Strategi Kepemimpinan di Era VUCA

kelly-sikkema-gcHFXsdcmJE-unsplash

Sumber: Kelly Sikkema / Unsplash

Adaptasi dibutuhkan oleh pemimpin perusahaan usai mengetahui konsep VUCA. Dalam menjalankan sebuah bisnis atau organisasi, Bob Johansen dari Institute for the Future menjabarkan beberapa kerangka menangkal atau menghadapi VUCA. Seperti yang ada di dalam bukunya yang berjudul Leaders Make The Future pada 2009, Bob Johansen menyebut VUCA Prime sebagai kerangka kerja menghadapi ancaman VUCA. 

Para pemimpin sukses dapat menggunakan konsep VUCA yang berbeda untuk membangun strategi selama krisis. Johansen memiliki beberapa strategi yang bisa dilakukan pemimpin dalam menghadapi era VUCA di antaranya berkebalikan dengan VUCA sebelumnya, yakni strategi kepemimpinan VUCA meliputi akronim dari Pandangan ke depan (Vision), Pemahaman (Understanding), Kejelasan (Clarity),serta Adaptasi dan Kegesitan (Adaptability and Agility). 

Konsep kepemimpinan VUCA dalam bisnis bisa dilakukan para pemimpin dalam menghadapi krisis, penjelasan konsep kepemimpinan VUCA sebagai berikut:

Pandangan ke depan (Vision)

Tidak ada pemimpin efektif yang akan diam saja ketika menghadapi perubahan yang drastis. Mereka akan merevisi strategi yang dimiliki agar tetap stabil. Pada masa perubahan tersebut pemimpin berusaha berpegang teguh pada nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai. 

Pernyataan terkait berusaha mempertahankan tujuan senada dengan yang tertulis dalam artikel Harvard Business Review 1996 mereka “Membangun Visi Perusahaan Anda” (Building Your Company’s Vision) yang ditulis Jim Collins dan Jerry I. Porras. Artikel tersebut menuliskan bahwa visi terdiri dari dua elemen utama dan dua sub-elemen: ideologi inti (terdiri dari nilai-nilai inti dan tujuan inti) dan masa depan yang dibayangkan atau prediksi yang bisa dideskripsikan dengan jelas. 

Pemahaman (Understanding)

Memiliki pemahaman terkait perubahan situasi jadi bekal yang sebaiknya dimiliki seorang pemimpin. Dengan begitu, mereka bisa memprediksi dampak dari perubahaan yang berkaitan dengan organisasi atau bisnisnya.

Dalam artikel berjudul "The Five Competitive Forces That Shape Strategy" yang dipublikasikan Harvard Business Review pada 2008, terdapat lima kekuatan kompetitif yang dapat dijadikan strategi. Artikel yang ditulis Michael Porter menjabarkan lima kekuatan yang mempengaruhi strategi produk atau jasa apa pun dalam lingkungan pasar yang kompetitif di antaranya ancaman pendatang baru, daya tawar pembeli, persaingan dengan pesaing yang ada, ancaman pengganti dan daya tawar pemasok.

Mengetahui kelima kekuatan menjadi tombak penting dalam bisnis yang dikembangkan. Misalnya, di industri pemasaran digital, ancaman pendatang baru dan persaingan terhadap pesaing yang keluar menjadi faktor utama. Apalagi tren persaingan terus meningkat menggunakan teknologi dalam menuju digitalisasi. Para pemimpin harus mempelajari perubahan yang dimiliki dan mengubah strategi mereka sesuai dengan perubahan.

Kejelasan (Clarity)

Dalam situasi krisis yang tidak menentu, pemimpin sebaiknya mampu memberikan kejelasan bagi karyawannya, khususnya terkait keamanan kerja seperti stabilitas finansial. Dalam buku “The 21 Irrefutable Laws of Leardership” karya John Maxwell disebutkan komunikasi jadi kunci penting hubungan dengan karyawan yang berada di dalam perusahaan. Terlebih perubahan yang terjadi bisa memengaruhi kestabilan dari anggaran dan manajemen perusahaan. Apakah ada pengurangan gaji karyawan? Apakah ada pemecatan atau PHK?

Adaptasi dan Kegesitan (Adaptability and Agility)

Untuk bisa siap menghadapi perubahan, khususnya pada masa pandemi Covid-19, pemimpin harus mampu beradaptasi dan cepat dalam menentukan strategi. Inovasi menjadi kunci untuk mengevaluasi strategi lama yang digunakan. 

Merujuk pada buku “Blue Ocean Strategy" karya W. Chan Kim dan Renee Mauborgne, mereka menyarankan pemimpin untuk berhenti bersaing dalam industri yang terus berkembang. Mereka menyebut persaingan tidak relevan. 

Sebagai contoh, beberapa perusahaan farmasi terkemuka berusaha mencari pengobatan atau vaksinasi untuk Covid-19. Pasar ini adalah pasar baru, mewakili contoh nyata dari 'samudera biru'. Contoh tersebut menjelaskan bahwa memberikan solusi bagi masyarakat jadi strategi.

---

Ruangkerja menyediakan fitur-fitur yang dapat mendukung suksesnya pengembangan blended learning untuk pelatihan di perusahaan Anda. Karena ruangkerja dilengkapi dengan fitur-fitur sebagai berikut:

  1. Rewards point, peserta dapat memperoleh poin yang dapat ditukarkan dengan hadiah sesuai keinginan perusahaan. 
  2. Leaderboards, memicu peserta untuk menyelesaikan pelatihan dengan skor tinggi.
  3. Collaboration, setiap peserta dapat berkolaborasi dengan peserta lainnya melalui forum diskusi.

Berbagai perusahaan telah bergabung dengan ruangkerja, kini giliran Anda! 

Pelatihan Karyawan ruangkerja

Sumber: 

Vuca World Org. 2021. LEADERSHIP SKILLS & STRATEGIES V U C A world [online]. Link: https://www.vuca-world.org/ (Accessed: 2 September 2021). 

Bernett, Nathan, et.al. 2014. What VUCA Really Means for You [online]. Link: https://hbr.org/2014/01/what-vuca-really-means-for-you (Accessed: 2 September 2021)

Sanitarium Workplace Health. 2020. Keeping Employees Engaged and Motivated in a VUCA world [online]. Link: https://vitalityworks.health/keeping-employees-engaged-motivated-vuca-world/ (Accessed: 2 September 2021)

Ghabour, Edward. 2020. A New VUCA Model to Train Leaders Through Covid-19 and Beyond [online]. Link: https://trainingindustry.com/articles/leadership/a-new-vuca-model-to-train-leaders-to-manage-through-covid-19-and-beyond/ (Accessed: 2 September 2021)

Profile

Vindiasari Yunizha

Beri Komentar