Memahami Strategi Kepemimpinan dalam Bisnis di Era VUCA

Bisnis Era VUCA

Bisnis di era VUCA membawa ketidakpastian dan tantangan yang unik. Apa itu VUCA? Dan bagaimana strategi kepemimpinan yang tepat untuk menyiasatinya?

Bagi Anda sebagai seorang pelaku bisnis, mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah VUCA. VUCA bukan lagi sekadar konsep, melainkan menjadi permasalahan yang biasa kita hadapi di kehidupan sehari-hari. Situasi ini bahkan termasuk dalam kehidupan berbisnis atau berkarier.

 

Apa itu VUCA dalam bisnis?

Dalam bahasa Inggris, VUCA adalah singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity.

Bisa diartikan bahwa VUCA merupakan gabungan situasi, mulai dari volatility (volatilitas), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas), dan ambiguity (ambiguitas).

Istilah VUCA sendiri berasal dari teori kepemimpinan yang berkembang dalam pelatihan United State Army War College. Teori tersebut pertama kali dijelaskan oleh Warren Bennis dan Burt Nanus pada 1987.

Dalam hal ini VUCA sendiri menjadi gambaran untuk menunjukkan kondisi yang terjadi usai perang dingin. Konsep VUCA ini pun berkembang hingga ke perusahaan, ekonomi dan bisnis.

 

Tantangan Perusahaan di era VUCA 

amy-hirschi-K0c8ko3e6AA-unsplash

Sumber: Amy Hirschi on Unsplash

Mengenal pengertian VUCA secara mendalam mampu memberikan dampak positif bagi situasi ekonomi yang sulit  yang sedang dihadapi para pemimpin.

Dalam memimpin sebuah perusahaan, dibutuhkan strategi khusus untuk tetap bertahan dengan kondisi yang terus berkembang. Untuk memiliki strategi khusus yang dapat mengantisipasi situasi VUCA, Anda sebaiknya memahami pengertiannya terlebih dahulu.

Adapun pengertian dari masing-masing akronim VUCA sebagai berikut:

Volatility (Volatility)

Volatility merupakan kondisi di mana adanya perubahan yang cepat dari satu situasi ke situasi lainnya.

Perubahan secara cepat yang dimaksud bukan terencana, melainkan dengan serba cepat, tidak teratur, tidak jelas, tidak stabil dan tidak terduga. Bahkan dapat menyebabkan masalah dan akibat lebih berlapis.

Karakter dari kondisi volatilitas adalah tantangan yang tak terprediksi sampai kapan durasinya, kendati demikian tantangan tersebut tidak cukup sulit untuk ditangani jika memiliki pengetahuan.

Volatilitas kerap dijadikan sebagai tantangan ataupun peluang. Hal tersebut bisa terjadi bergantung strategi yang diambil dari para pemimpin atau karyawan dalam menghadapi volatilitas.

 

Uncertainty (Ketidakpastian)

Uncertainty (Ketidakpastian) lebih jauh dijelaskan pada kondisi ketidakpastian di mana informasi yang ada kurang spesifik atau juga dapat berarti sebagai sulitnya memperkirakan implikasi dari suatu isu atau peristiwa yang terjadi saat ini.

Informasi yang berasal dari masa lalu dianggap kurang relevan untuk situasi sekarang, yang berarti sulitnya memperkirakan suatu keadaan di masa depan berdasarkan informasi yang telah ada.

Dengan begitu, perlu ada strategi baru yang beriringan dengan inovasi.

 

Complexity (Kompleksitas)

Apa itu complexity dalam VUCA?

Complexity atau kompleksitas singkatnya adalah kerumitan.

Situasi kompleksitas ini memiliki karakteristik, yakni kondisi di mana pemimpin dihadapkan pada banyak faktor dan variabel yang saling berhubungan. Sesuatu kejadian bisa diprediksi, tetapi dalam proses mengatasinya butuh strategi dan keputusan tersendiri.

Contoh: ketika menjalankan bisnis yang tersebar di berbagai negara, setiap negara punya kebijakan dan regulasi masing-masing. Pendekatan yang bisa digunakan adalah mulai berpikir untuk membuat struktur baru dan sumber daya manusia yang bisa membantu mengatasinya.

 

Ambiguity (Ambiguitas)

Karakter dari kondisi ambiguitas adalah perkembangan yang tak terarah atau cenderung semakin membingungkan. Tidak ada kejelasan dan sangat sulit untuk diprediksi hingga memunculkan adanya beragam penafsiran.

Dari pandangan ekonomi, perusahaan, dan dunia bisnis, kondisi VUCA menjadi sebuah ancaman.

Hal yang ini tergambar jelas pada saat pandemi Covid 19. Semua sektor perusahaan dan lini bisnis terdampak dengan munculnya pandemi Covid-19.

Situasi tersebut, mau tak mau membuat para pemimpin perusahaan atau organisasi harus beradaptasi dan mengambil tindakan untuk melanjutkan atau mempertahankan bisnisnya.

Tak sedikit pelatihan kepemimpinan bisnis dalam perusahaan melibatkan adanya konsep VUCA. Harapannya untuk menghadapi kondisi yang kompleks bagi dunia bisnis, pemimpin maupun pelaku bisnis mampu menguasai perencanaan strategis dengan penuh ancaman ketidakpastian.

Selain konsep yang berdasarkan kondisi yang terjadi usai perang dingin, VUCA juga dapat dijadikan sebagai strategi kepemimpinan pada bisnis.

Baca Juga: Analisis SWOT Perusahaan: Teknik Menggali Potensi, Tantangan, dan Keunggulan Kompetitif Bisnis

 

Strategi untuk Menghadapi VUCA

kelly-sikkema-gcHFXsdcmJE-unsplash

Sumber: Kelly Sikkema / Unsplash

Usai mengetahui konsep tersebut, pemimpin perusahaan perlu beradaptasi dengan VUCA.

Dalam menjalankan sebuah bisnis atau organisasi, Bob Johansen dari Institute for the Future menjabarkan beberapa kerangka menangkal atau menghadapi VUCA.

Dalam bukunya yang berjudul Leaders Make The Future pada 2009, Bob Johansen menyebut VUCA Prime sebagai kerangka kerja menghadapi ancaman VUCA.

Para pemimpin sukses dapat menggunakan konsep VUCA yang berbeda untuk membangun strategi selama krisis.

Johansen memiliki beberapa strategi yang bisa dilakukan pemimpin dalam menghadapi era VUCA di antaranya berkebalikan dengan VUCA sebelumnya, yakni strategi kepemimpinan VUCA meliputi akronim dari Vision (Pandangan ke depan), Understanding (Pemahaman), Clarity (Kejelasan), serta Adaptability and Agility (Adaptasi dan Kegesitan).

Konsep kepemimpinan VUCA dalam bisnis bisa dilakukan para pemimpin dalam menghadapi krisis. Penjelasan mengenai istilah VUCA pada konteks yang dapat diadaptasi sebagai strategi para pemimpin menghadapi krisis melalui 4 langkah.

 

4 Langkah Menghadapi VUCA

Sebagaimana yang disebutkan Johansen, cara menghadapi VUCA adalah dengan mengadaptasinya ke dalam strategi kepemimpinan dalam 4 langkah. Yaitu sebagai berikut:

Vision (Pandangan Ke Depan)

Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin berkembang zaman, tantangan dunia bisnis semakin rumit dan tak terduga. Lalu, menghadapi volatility adalah dengan cara apa?

Pemimpin yang efektif tak akan diam saja ketika menghadapi perubahan yang terjadi dengan cepat atau labil. Mereka akan merevisi strategi yang dimiliki agar tetap stabil.

Pada masa perubahan tersebut pemimpin berusaha berpegang teguh pada nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai. Anda bisa menjadi pemimpin yang memiliki pandangan ke depan agar dapat memprediksi probabilitas dan keadaan yang labil di masa depan.

Pernyataan terkait berusaha mempertahankan tujuan senada dengan yang tertulis dalam artikel Harvard Business Review 1996 mereka “Membangun Visi Perusahaan Anda” (Building Your Company’s Vision) yang ditulis Jim Collins dan Jerry I. Porras.

Artikel tersebut menjelaskan bahwa visi terdiri dari dua elemen utama dan dua sub-elemen: ideologi inti (terdiri dari nilai-nilai inti dan tujuan inti) dan masa depan yang dibayangkan atau prediksi yang bisa dideskripsikan dengan jelas. 

Selain itu, bila perlu kita bisa lakukan simulasi dan eksperimen dengan situasi yang sekiranya akan berdampak buruk. Dengan demikian kita tidak akan terlalu buta menghadapi situasi yang tidak terbayangkan.

 

Understanding (Pemahaman)

Untuk mengatasi ketidakpastian perubahan, perusahaan harus dapat memprediksi dampak dari perubahaan yang berkaitan dengan organisasi atau bisnisnya.

Selain itu, sebagai pelaku bisnis, meskipun dihadapkan dengan situasi yang tidak pasti, kita harus tetap bisa melakukan pengambilan keputusan dan mampu melakukan manajemen risiko.

Untuk itu, salah satu solusi mengatasi masalah ini adalah dengan understanding atau memiliki pemahaman terkait perubahan situasi jadi bekal yang dimiliki seorang pemimpin perusahaan yang ingin bertahan dalam dunia bisnis.

Dalam artikel berjudul “The Five Competitive Forces That Shape Strategy” yang dipublikasikan Harvard Business Review pada 2008, terdapat lima kekuatan kompetitif yang bisa dijadikan strategi.

Artikel yang ditulis Michael Porter menjabarkan lima kekuatan yang mempengaruhi strategi produk atau jasa apa pun dalam lingkungan pasar yang kompetitif di antaranya ancaman pendatang baru, daya tawar pembeli, persaingan dengan pesaing yang ada, ancaman pengganti dan daya tawar pemasok.

Mengetahui kelima kekuatan menjadi tombak penting dalam menghadapi kondisi bisnis yang dikembangkan.

Misalnya, di industri pemasaran digital, ancaman pendatang baru dan persaingan terhadap pesaing yang keluar menjadi faktor utama. Apalagi tren persaingan terus meningkat menuju digitalisasi.

Para pemimpin harus mempelajari perubahan yang dimiliki dan mengubah strategi mereka sesuai dengan perubahan.

 

Clarity (Kejelasan)

Dalam situasi krisis yang tidak menentu, jika ingin bisnis tetap berjalan, Anda sebaiknya menjadi pemimpin yang mampu memberikan kejelasan.

Hal ini dicapai dengan pemimpin berkomunikasi secara jelas dengan karyawannya,  khususnya terkait keamanan kerja seperti stabilitas finansial.

Dalam buku “The 21 Irrefutable Laws of Leadership” karya John Maxwell disebutkan komunikasi menjadi kunci penting hubungan dengan karyawan. Terlebih perubahan yang terjadi bisa memengaruhi kestabilan dari anggaran dan manajemen perusahaan.

Jika sebelumnya Anda memahami dan mengembangkan cara berpikir untuk mengatasi isu atau peristiwa yang tidak terduga, Anda harus bisa mengomunikasikannya ke anggota perusahaan.

Baik itu berupa strategi,  apresiasi anggota, kritik, memberikan penjelasan ancaman perusahaan dan lain-lain. Tidak dengan dengan mendikte atau mengendalikan mereka tanpa memberi pemahaman yang baik.

Misalnya di bisnis Anda, Anda dan tim membuat sebuah acara penggalangan dana.

Di acara tersebut ternyata terjadi kesalahan fatal akibat salah seorang karyawan. Ternyata acara tersebut dihadiri oleh peserta yang tidak memenuhi target karena karyawannya gagal menyampaikan informasi.

Apakah dengan adanya kejadian tersebut ada pengurangan gaji karyawan? Apakah ada pemecatan atau PHK?

Dengan memiliki alur komunikasi yang transparan Anda dapat membuat perusahaan atau bisnis semakin terkendali.

 

Adaptability and Agility (Adaptabilitas dan Kegesitan)

Dalam menghadapi perubahan, khususnya pada pandemi Covid-19, kita tidak bisa menyerah dengan keadaan.

Tapi kita sebagai pemimpin juga harus mampu beradaptasi dengan lebih baik dan dengan lebih cepat dalam menentukan strategi juga membuat keputusan yang perlu dilakukan.

Inovasi menjadi kunci untuk mengevaluasi strategi lama yang digunakan. Hal ini membantu menavigasi situasi yang tidak menentu dan asing.

Merujuk pada buku “Blue Ocean Strategy” karya W. Chan Kim dan Renee Mauborgne, mereka menyarankan pemimpin untuk berhenti bersaing dalam industri yang terus berkembang. Mereka menyebut persaingan tidak lagi relevan.

Sebagai contoh, beberapa perusahaan farmasi terkemuka berusaha mencari pengobatan atau vaksinasi untuk Covid-19. Pasar ini adalah pasar baru, mewakili contoh yang nyata dari ‘samudera biru’.

Contoh tersebut menjelaskan bahwa inilah yang memberikan solusi bagi masyarakat jadi strategi yang dibuat oleh perusahaan.

Meskipun masalah yang akan datang tidak terprediksi, terarah dan terasa cepat dan dipengaruhi oleh banyak faktor yang sulit dikontrol dalam berbagai hal seperti teknologi, masalah sumber daya manusia dan dengan segala ancaman lainnya, Anda dapat menghadapinya dengan metode VUCA: Vision, Understanding, Clarity, Adaptability and Agility.

Dalam situasi yang kompleks tetap dapat diatasi dengan baik. Hal ini bisa tercapai jika Anda tetap tenang, berhenti sejenak untuk mendengarkan dan melihat sekeliling, untuk memahami kondisi yang sedang dihadapi, lalu terapkan strategi VUCA yang telah Anda pahami.

Dengan demikian situasi dapat teratasi, meskipun tidak dengan mudah.

Baca Juga: Memahami Konsep Blended Learning dan Manfaatnya


 

Itulah penjelasan tentang VUCA yang mungkin akan bermanfaat bagi perusahaan Anda. Jangan lupa untuk terus upgrade diri agar tidak tergerus tantangan VUCA, salah satu caranya adalah dengan bergabung di Ruangkerja.

Ruangkerja menyediakan fitur-fitur yang dapat mendukung suksesnya pengembangan kepemimpinan VUCA untuk pelatihan di perusahaan Anda, karena ruangkerja dilengkapi dengan fitur-fitur sebagai berikut:

  1. Rewards point, peserta dapat memperoleh poin yang dapat ditukarkan dengan hadiah sesuai keinginan perusahaan. 
  2. Leaderboards, memicu peserta untuk menyelesaikan pelatihan dengan skor tinggi.
  3. Collaboration, setiap peserta dapat berkolaborasi dengan peserta lainnya melalui forum diskusi.

Berbagai perusahaan telah bergabung dengan ruangkerja, kini giliran Anda!

[IDN] CTA Bawah Blog Ruangkerja Pelatihan Karyawan RGFB

Referensi:

Vuca World Org. 2021. LEADERSHIP SKILLS & STRATEGIES V U C A world [online]. Link: https://www.vuca-world.org/ (Accessed: 2 September 2021).

Bernett, Nathan, et.al. 2014. What VUCA Really Means for You [online]. Link: https://hbr.org/2014/01/what-vuca-really-means-for-you (Accessed: 2 September 2021)

Sanitarium Workplace Health. 2020. Keeping Employees Engaged and Motivated in a VUCA world [online]. Link: https://vitalityworks.health/keeping-employees-engaged-motivated-vuca-world/ (Accessed: 2 September 2021)

Ghabour, Edward. 2020. A New VUCA Model to Train Leaders Through Covid-19 and Beyond [online]. Link: https://trainingindustry.com/articles/leadership/a-new-vuca-model-to-train-leaders-to-manage-through-covid-19-and-beyond/ (Accessed: 2 September 2021)

Vindiasari Yunizha