Langkah dan Manfaat Model Pembelajaran Inquiry Learning

Inquiry learning adalah pembelajaran bukan sekadar praktik, melainkan mengundang rasa ingin tahu peserta didik.
—
Menjaga fokus dan motivasi karyawan dalam program pelatihan perusahaan sering kali menjadi tantangan besar bagi tim HR. Untuk mengatasinya, penerapan model pembelajaran inquiry learning kini menjadi strategi yang sangat diminati.
Inquiry learning adalah sebuah metode pembelajaran inovatif yang mengajak peserta untuk aktif menyelidiki masalah dan menemukan solusi secara mandiri.
Tidak sekadar teori, metode inquiry terbukti ampuh melatih kemampuan problem solving dan berpikir kritis di dunia kerja. Artikel ini akan mengupas tuntas langkah-langkah implementasi serta manfaat inquiry-based learning untuk mengoptimalkan potensi SDM Anda.
Apa itu Inquiry Learning?
Inquiry learning adalah metode belajar yang pada prinsipnya mengajak peserta didik untuk aktif bertanya dan bereksperimen secara mandiri selama proses belajar. Dalam model pembelajaran inquiry, peserta didik mencari materi pembelajaran secara mandiri. Peserta didik mencari tahu materi dengan mengajukan pertanyaan dan melakukan riset atau penelitian secara mandiri.
Inquiry learning melingkupi dua kata, inquiry dan learning. Inquiry artinya meminta keterangan atau penyelidikan. Sementara learning artinya pembelajaran. Dengan begitu inquiry learning adalah kegiatan pembelajaran yang menekankan pada rasa ingin tahu dari peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis apa yang akan ia pelajari.
Model pembelajaran inquiry learning adalah kegiatan belajar yang menekankan pada pengembangan keterampilan penyelidikan dan kebiasaan berpikir yang memungkinkan peserta didik untuk melanjutkan pencarian pengetahuan.
Metode ini memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam penyelidikan sebuah masalah. Sementara bagi pengajar, inquiry-based learning adalah seraingkaian proses yang menggerakkan peserta didik dalam menemukan jawaban atas rasa keingintahuannya melalui pemikiran kritis.
Dalam kata lain, peserta didik dituntut untuk berpikir kritis, logis, melakukan identifikasi masalah dan menemukan sendiri jawabannya dengan melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan. Hal ini dapat meningkatkan atau mengembangkan kemampuan yang mereka miliki sebelumnya.
Penting untuk diingat bahwa pembelajaran berbasis inkuiri (inquiry-based learning) bukanlah teknik atau praktik saja, tetapi sebuah proses yang memiliki potensi untuk meningkatkan keterlibatan intelektual dan pemahaman mendalam para peserta didik.
Jenis-Jenis Inquiry Learning
Model pembelajaran inquiry memiliki beberapa jenis yang disesuaikan dengan peran pengajar atau tutor. Dalam pembelajaran ini pengajar mengambil peran dalam proses penyelidikan. Mulai dari menentukan tema hingga evaluasi. Adapun jenis-jenis inquiry learning adalah sebagai berikut:
-
Open Inquiry (inkuiri terbuka)
Jenis pembelajaran ini pengajar menempatkan diri sebagai fasilitator selama proses pembelajaran. Pengajar bisa memberikan masukan dan ikut terlibat membantu peserta didik jika diminta. Dalam proses pembelajaran, peserta didik mendapat kebebasan mengeksplor penyelidikannya. Terdapat inisiatifnya sendiri dari peserta didik dalam menyelesaikan sebuah permasalahan yang dihadapi dan menemukan jawabannya sendiri.
-
Guided Inquiry (inkuiri terbimbing)
Berbeda dengan open inquiry, peran pengajar pada guided inquiry dimulai dari menentukan tema dan topik penyelidikan yang akan dibahas. Selain itu pengajar juga turut mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diselidiki peserta didik. Dalam hal ini pengajar ikut terlibat dalam membimbing dari awal proses hingga akhir.
Baca Juga: Mengenal Model Pembelajaran Kooperatif, Tingkatkan Kualitas Kerja Tim
Manfaat Model Pembelajaran Inquiry Learning
Inquiry-based learning adalah pembelajaran yang mampu mendatangkan kemanfaatan bagi peserta didiknya. Adapun beberapa manfaat penerapan model pembelajaran inquiry learning yaitu sebagai berikut
- Mampu mengembangkan keterampilan bertanya, penelitian, dan komunikasi
- Meningkatkan kolaborasi dan kerjasama antarpeserta didik atau kelompok untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal
- Mampu memecahkan masalah, membuat solusi, dan mengatasi pertanyaan dan masalah kehidupan nyata. Dapat mengembangkan bakat, mengembangkan keterampilan berpikir kritis atau critical thinking skills dan meningkatkan keberhasilan belajar.
- Meningkatkan partisipasi dalam penciptaan dan perbaikan ilmu pengetahuan dalam belajar
5 Langkah Pembelajaran Inquiry Learning
Dalam implementasi, manfaat dari pembelajaran model inquiry learning bisa terwujud jika menerapkan langkah-langkah atau proses belajar mengajar yang tepat, dengan metode inquiry learning. Berikut adalah langkah inquiry learning:

1. Peserta didik mengajukan atau merumuskan sendiri pertanyaan
Langkah awal dalam pembelajaran inquiry learning adalah peserta didik secara aktif mengajukan atau merumuskan pertanyaan berdasarkan fenomena, permasalahan, atau situasi yang diamati. Pada tahap ini, guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan stimulus berupa masalah kontekstual, gambar, video, teks, atau demonstrasi tertentu agar dapat memancing rasa ingin tahu peserta didik. Pertanyaan yang diajukan oleh peserta didik menjadi dasar utama dalam proses pembelajaran, karena inquiry learning menekankan keterlibatan aktif peserta didik dalam membangun pengetahuan mereka sendiri.
Kemampuan merumuskan pertanyaan melatih peserta didik untuk berpikir kritis dan reflektif. Peserta didik tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi didorong untuk mengidentifikasi apa yang belum mereka ketahui dan apa yang perlu mereka cari jawabannya. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi lebih bermakna karena berangkat dari kebutuhan dan keingintahuan peserta didik itu sendiri, bukan semata-mata dari penjelasan guru.
2. Menyelidiki suatu hal dalam berbagai situasi
Setelah pertanyaan dirumuskan, langkah selanjutnya adalah melakukan penyelidikan terhadap masalah yang telah ditentukan. Pada tahap ini, peserta didik mengumpulkan data dan informasi melalui berbagai cara, seperti membaca sumber referensi, melakukan pengamatan, wawancara, eksperimen, atau diskusi kelompok. Penyelidikan dapat dilakukan dalam berbagai situasi dan konteks agar peserta didik memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam terhadap permasalahan yang dikaji.
Kegiatan penyelidikan ini melatih keterampilan proses sains dan kemampuan berpikir ilmiah peserta didik . Mereka belajar untuk mencari informasi yang relevan, memilah data yang valid, serta bekerja sama dengan teman dalam menyelesaikan tugas. Guru tetap memberikan bimbingan seperlunya agar proses penyelidikan berjalan terarah, namun tetap memberi ruang bagi peserta didik untuk mengeksplorasi dan menemukan informasi secara mandiri.
3. Peserta didik melakukan analisis dan memberikan deskripsi terhadap hasil penyelidikan
Pada tahap ini, peserta didik mulai menganalisis data dan informasi yang telah diperoleh selama proses penyelidikan. Analisis dilakukan dengan cara menghubungkan temuan dengan pertanyaan awal, mencari pola, membandingkan informasi, serta menarik hubungan sebab akibat. Proses ini menuntut peserta didik untuk menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills), seperti menganalisis, menafsirkan, dan menyimpulkan.
Selain melakukan analisis, peserta didik juga diminta untuk mendeskripsikan hasil temuannya secara sistematis dan logis. Deskripsi ini dapat berupa penjelasan tertulis, tabel, grafik, atau diagram yang membantu memperjelas hasil penyelidikan. Melalui kegiatan ini, peserta didik belajar mengomunikasikan ide dan pemahamannya dengan bahasa yang runtut dan ilmiah, sehingga pengetahuan yang diperoleh menjadi lebih terstruktur.
4. Mempresentasikan hasil temuan secara lisan atau tertulis
Setelah hasil analisis disusun, peserta didik mempresentasikan temuan mereka baik secara lisan maupun tertulis. Presentasi lisan dapat dilakukan melalui diskusi kelas, presentasi kelompok, atau sesi tanya jawab, sedangkan presentasi tertulis dapat berupa laporan, makalah singkat, atau poster. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyampaikan hasil pemikirannya kepada orang lain serta melatih keterampilan komunikasi.
Melalui proses presentasi, peserta didik juga belajar menerima masukan, kritik, dan pertanyaan dari guru maupun teman sebaya. Interaksi ini mendorong peserta didik untuk mempertahankan argumen yang mereka sampaikan dan memperbaiki pemahaman jika terdapat kekeliruan. Dengan demikian, presentasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian hasil, tetapi juga sebagai proses pembelajaran lanjutan yang memperkaya pemahaman peserta didik.
5. Proses evaluasi dan refleksi pembelajaran
Tahap terakhir dalam inquiry learning adalah evaluasi dan refleksi terhadap proses serta hasil pembelajaran. Pada tahap ini, peserta didik merefleksikan informasi dan pengetahuan yang telah diperoleh, termasuk bagaimana mereka menemukan jawaban atas pertanyaan awal. Refleksi dapat dilakukan melalui diskusi, jurnal reflektif, atau pertanyaan evaluatif yang membantu peserta didik menyadari perkembangan pemahamannya.
Evaluasi tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pembelajaran yang telah dilalui peserta didik. Guru dapat menilai keterlibatan peserta didik, kemampuan berpikir kritis, kerja sama, serta keterampilan komunikasi yang ditunjukkan selama proses inquiry. Dengan adanya refleksi dan evaluasi, peserta didik diharapkan mampu memahami kelebihan dan kekurangan diri mereka, sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran pada kegiatan selanjutnya.
Baca Juga : Model Pembelajaran Discovery Learning dan Contohnya di Dunia Kerja
Penerapan Inquiry Learning dalam Pelatihan Karyawan (Corporate Training)
1. Berikan Studi Kasus Nyata (Real-World Business Cases)
2. Manfaatkan Sesi Focus Group Discussion (FGD)
3. Implementasikan Proyek Eksperimen Skala Kecil
- Meningkatkan Problem-Solving: Karyawan terbiasa mencari solusi, bukan sekadar menunggu instruksi atasan.
- Memacu Inovasi: Proses investigasi mandiri membuka peluang lahirnya ide-ide bisnis baru yang segar.
- Retensi Pengetahuan Lebih Tinggi: Karyawan lebih mudah mengingat materi pelatihan karena mereka terlibat langsung dalam proses “menemukan” konsep tersebut.
—
- Social Learning & Collaboration: Ruang diskusi interaktif agar karyawan bisa saling berkolaborasi, mendebat studi kasus, dan menyelidiki masalah bersama tim.
- Gamification & Leaderboards: Memicu keterlibatan aktif dan motivasi karyawan untuk menyelesaikan setiap modul riset mandiri secara kompetitif.
- Real-Time Analytics: Mempermudah tim HR dalam mengevaluasi perkembangan berpikir kritis dan retensi pemahaman setiap karyawan secara akurat.
Referensi:
Pappas, Christopher. 2014. Instructional Design Models and Theories: Inquiry-based Learning Model [online]. Link: https://elearningindustry.com/inquiry-based-learning-model (Accessed: 4 July 2022)
Pappas, Christopher. 2019. 6 Tips To Use Inquiry-Based Learning In Modern Online Training Experiences [online]. Link:https://elearningindustry.com/tips-use-inquiry-based-learning-modern-online-training-experiences (Accessed: 4 July 2022)
Shank, Patti. 2018. How Well Do We Learn From Experiential Or Inquiry Learning Approaches? [online]. Link: https://elearningindustry.com/experiential-inquiry-learning-how-well-learn (Accessed: 4 July 2022)
![[IDN] CTA Tengah 1 Blog Ruangkerja Pelatihan Efektif RGFB](https://cdn-web.ruangguru.com/landing-pages/assets/cta/42133210-c3d9-45b8-b7c6-2fe7faaf7756.jpeg)

