Cara Mencegah & Menyiasati Toxic Workplace, Anda Wajib tahu!

Menyiasati Toxic Workplace

Lingkungan kantor yang beracun bisa berdampak pada penurunan produktivitas karyawan.

Kesadaran terkait kesehatan mental di dunia kerja mulai meningkat. Tak sedikit karyawan maupun perusahaan yang menyadari pentingnya kesehatan psikis di lingkungan kerja. Pasalnya kesehatan mental seseorang turut berperan penting dalam produktivitas.

Jika seseorang mengalami tekanan mental di kantor akibat pengaruh lingkungan atau beban pekerjaan yang berat, maka memungkinkan karyawan mengalami gangguan kesehatan jiwa seperti depresi.

Lingkungan kerja yang kurang mendukung adanya kenyamanan dan menganggu kesehatan mental biasa disebut toxic workplace.

 

Apa itu Toxic Workplace?

Toxic Workplace atau biasa dikenal lingkungan kerja beracun ini membuat suasana kerja kurang mendukung untuk produktif. Sering kali karyawan merasa tidak nyaman ketika bekerja.

Ada banyak situasi ‘toxic’ yang memunculkan banyak tekanan batin di kantor. Kondisi tersebut membuat karyawan tidak berkerja secara optimal.

 

Ciri-Ciri Toxic Workplace

1. Manajemen perusahaan yang tidak transparan

Perusahaan yang memiliki manajemen tidak transparan memunculkan persaingan tidak sehat dalam lingkungan kerja. Kekuasaan yang dikendalikan oleh segelintir orang akan jauh dari profesionalisme. Sistem yang diterapkan biasanya berbasis kekuasaan atau orang dekat, bukan berbasis keahlian dan kapabilitas.

2. Selalu muncul drama

Lingkungan kerja yang toksik selalu dikelilingi dengan orang-orang bermuka dua. Selain itu muncul pula senioritas yang kuat dalam kantor. Tak jarang sering muncul drama-drama kantor yang bisa mengganggu produktivitas bekerja.

3. Komunikasi tidak berjalan efektif

Biasanya kantor beracun akan cenderung memiliki komunikasi antartim yang kurang baik. Dalam tim selalu terjadi adanya misscommunication yang ujungnya saling menyalahkan.

4. Atasan yang bossy dan merundung

Memiliki pemimpin yang hanya bisa menyuruh, tanpa memberikan apresiasi termasuk tanda kamu berada di lingkungan beracun. Pemimpin yang baik tidak akan menekan karyawannya, melainkan memberikan dukungan dan masukan agar bekerja dengan baik.

5. Keseimbangan hidup tidak terwujud

Work-life balance sering didambakan karyawan. Jika beban pekerjaan justru menghilangkan momen untuk menikmati hidup, maka sebaiknya Anda mempertimbangkan pekerjaanmu. Kehidupan pribadimu cenderung terganggu lantaran kesibukan bekerja.

6. Mengganggu kesehatan mental dan fisik

Jika selama bekerja, Anda sering sakit-sakitan, itu pertanda Anda berada di lingkungan yang tidak sehat. Gejala kecemasan, burn out, kehilangan napsu makan, dan merasa stress sering terjadi lantaran beban kerja yang terlalu besar dibarengi dengan kapasitas terbatas.

7. Merasa tidak berkembang saat bekerja

Rutinitas bekerja membuat diri Anda merasa stagnan. Anda merasa tidak ada pengembangan kapasitas selama bekerja di kantor. Kurang adanya pelatihan dan pengembangan sumberdaya manusia menjadi tanda perusahaan tersebut kurang memaksimalkan kemampuan karyawannya. 

Baca Juga: The Abilene Paradox dalam Dunia Kerja

 

Peran Pemimpin dalam Mencegah dan Menyiasati Toxic Workplace

Banyak alasan mengapa pemimpin perlu menaruh perhatian besar pada kesehatan mental di lingkungan kerjanya. Dalam buku berjudul “Who Switched Off My Brain?” karya Caroline Leaf, Ph.D mengungkapkan sebanyak 87-95% penyakit mental dan fisik merupakan akibat langsung dari pemikiran beracun.

Untungnya, penelitian terbaru juga menjelaskan hubungan antara emosi positif dan produktivitas, dan banyak organisasi sekarang berinvestasi besar-besaran untuk kesejahteraan karyawannya.

 

Selain menyiasati lingkungan toxic dalam perusahaan, Anda dapat mengembangkan karyawan Anda sehingga dapat bekerja dengan lebih efektif melalui pelatihan berbasis LMS ruangkerja. Daftar sekarang juga dengan mengklik gambar di bawah ini!

[IDN] CTA Tengah 2 Blog Ruangkerja Pelatihan Efektif RGFB

 

Strategi Meminimalisir Toxic Environment

Beberapa strategi yang bisa diterapkan agar perusahaan meminimalisasi terciptanya toxic environment antara lain:

Toxic workplace

1. Ciptakan organisasi dengan visi dan misi perusahaan yang jelas

Visi dan misi perusahaan akan diterapkan dalam budaya kerja di kantor. Dengan visi dan misi yang baik, tentu akan menciptakan peraturan dan manajemen perusahaan yang profesional.

Dengan begitu, diharapkan sistem yang dijalankan di perusahaan mengedepankan profesionalitas. 

 

2. Menciptakan lingkungan kerja yang mengedepankan work-life balance

Menciptakan lingkungan kerja yang seimbang bakal membuat karyawan betah dan nyaman menjalankan aktivitas. Kehidupan personal dan bekerja tidak akan terganggu.

Misalnya, perusahaan memberikan tunjangan, gaji, cuti, dan libur kerja yang mendukung kesejahteraan karyawan. Perlu pula adanya bilik konsultasi untuk menampung keluh kesah karyawan sehingga perusahaan bisa menjadikannya sebagai bahan evaluasi. Simak informasi lengkapnya di artikel Pentingnya Work Life Balance bagi Karyawan.

 

3. Gunakan penilaian objektif untuk kinerja karyawan

Menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan profesional bisa dimulai dengan menerapkan peraturan dan penilaian kinerja yang objektif.

Dengan begitu, karyawan dengan produktivitas yang prima bisa mendapatkan apresiasi. Sementara yang kurang bisa dijadikan bahan evaluasi terkait kendala dan hambatan selama bekerja.  

Baca Juga: Mengenal Proses Problem Solving di Dunia Kerja

 

5 Cara Mengatasi Toxic Workplace

Jika sudah terlanjur berada pada toxic workplace, Anda bisa melakukan beberapa langkah di bawah ini untuk mencegah kondisi menjadi semakin parah dan berdampak negatif pada karir Anda.

1. Mengenali Bentuk Toxic Workplace Sejak Dini

Langkah pertama adalah mengenali tanda-tanda lingkungan kerja yang toxic, seperti komunikasi yang penuh intimidasi, gosip berlebihan, budaya saling menyalahkan, atau atasan yang tidak menghargai batasan pribadi. Dengan menyadari pola ini lebih awal, karyawan tidak mudah menyalahkan diri sendiri atas situasi yang sebenarnya sistemik.

Kesadaran ini penting agar seseorang bisa bersikap lebih objektif dan waspada. Ketika masalah sudah teridentifikasi dengan jelas, langkah penanganan bisa dilakukan secara lebih terarah, baik melalui komunikasi, dokumentasi, maupun pengambilan keputusan jangka panjang.

 

2. Menjaga Batasan Profesional dan Kesehatan Mental

Di lingkungan kerja yang toxic, menjaga batasan (boundaries) menjadi sangat krusial. Ini bisa berupa membatasi keterlibatan dalam konflik yang tidak perlu, menolak beban kerja di luar kapasitas secara tegas namun sopan, serta memisahkan urusan kerja dari kehidupan pribadi.

Selain itu, kesehatan mental perlu dijadikan prioritas. Meluangkan waktu untuk istirahat, mencari dukungan dari teman atau profesional, dan tidak ragu mengambil cuti adalah bentuk perlindungan diri agar dampak negatif lingkungan kerja tidak berkepanjangan.

 

3. Membangun Komunikasi yang Asertif

Komunikasi asertif membantu seseorang menyampaikan pendapat, keberatan, atau perasaan tanpa bersikap agresif maupun pasif. Dalam toxic workplace, kemampuan ini penting agar suara karyawan tetap terdengar tanpa memperkeruh situasi.

Dengan komunikasi yang jelas dan berbasis fakta, kesalahpahaman dapat dikurangi. Walaupun tidak selalu langsung mengubah lingkungan kerja, setidaknya cara ini membantu individu mempertahankan harga diri dan profesionalisme.

 

4. Mencari Dukungan Internal dan Mendokumentasikan Masalah

Mencari dukungan dari rekan kerja yang tepercaya dapat memberikan perspektif baru dan rasa tidak sendirian. Jika memungkinkan, karyawan juga bisa memanfaatkan jalur formal seperti HR atau atasan yang lebih tinggi untuk menyampaikan masalah.

Selain itu, mendokumentasikan kejadian-kejadian toxic, seperti email, pesan, atau kronologi peristiwa, sangat penting. Dokumentasi ini berguna jika suatu saat diperlukan sebagai bukti dalam diskusi formal atau keputusan besar terkait karier.

 

5. Mempertimbangkan Langkah Karier Jangka Panjang

Jika lingkungan kerja tidak menunjukkan perubahan meski berbagai upaya sudah dilakukan, mempertimbangkan opsi lain adalah hal yang realistis. Bertahan terlalu lama di toxic workplace dapat berdampak serius pada kesehatan mental, kepercayaan diri, dan produktivitas.

Mencari peluang baru bukan berarti menyerah, melainkan bentuk keberanian untuk memilih lingkungan yang lebih sehat. Keputusan ini sering kali menjadi langkah penting untuk pertumbuhan karier dan kesejahteraan jangka panjang.

Baca Juga: Cara Mengatasi Work Burnout di Tempat Kerja

Jika ingin merencanakan bisnis dengan mumpuni, tak perlu khawatir. Kini RuangKerja telah memiliki pelatihan yang mendukung perusahaan Anda untuk menyiasati toxic workplace. Karena RuangKerja dilengkapi dengan fitur-fitur berikut:

  1. Rewards point, peserta dapat memperoleh poin yang dapat ditukarkan dengan hadiah sesuai keinginan perusahaan.
  2. Leaderboards, memicu peserta untuk menyelesaikan pelatihan dengan skor tinggi.
  3. Collaboration, setiap peserta dapat berkolaborasi dengan peserta lainnya melalui forum diskusi.

[IDN] CTA Tengah 2 Blog Ruangkerja Pelatihan Efektif RGFB

Referensi:

Economy, Peter. 2021. 5 Sure Cures for a Toxic Workplace [online]. Link: https://trainingindustry.com/articles/performance-management/5-sure-cures-for-a-toxic-workplace/ (Accessed: 10 Mei 2022)

Frisina, Dr. Michael. Williams, Rebekah. 2020. 3 Strategies That Help Prevent a Toxic Work Environment [online]. Link: https://trainingindustry.com/articles/leadership/3-strategies-that-help-prevent-a-toxic-work-environment/ (Accessed: 10 Mei 2022)

Suner, MBA, M.Ed, Elif. 2020. The Dose Makes It Toxic: How to Minimize Negative Emotions in the Workplace [online]. Link: https://trainingindustry.com/blog/leadership/the-dose-makes-it-toxic-how-to-minimize-negative-emotions-in-the-workplace/

Fuller, M.D; Kristen. 2019. How to Recognize a Toxic Work Environment and Get Out Alive [online]. Link:https://www.psychologytoday.com/us/blog/happiness-is-state-mind/201903/how-recognize-toxic-work-environment-and-get-out-alive (Accessed: 10 Mei 2022)

Henderson, Janee V. 2020. How a Toxic Workplace Can Impact your Mental Health [online]. Link:https://janeevhenderson.com/2020/02/how-a-toxic-workplace-can-impact-your-mental-health/ (Accessed: 10 Mei 2022).

Vindiasari Yunizha