Penyebab Turnover Karyawan Tinggi dan Cara Mengatasinya

Turnover karyawan yang tinggi bukan hanya soal banyaknya karyawan yang resign. Bagi perusahaan, kondisi ini bisa menjadi sinyal bahwa ada hal yang perlu dievaluasi dalam pengalaman kerja karyawan.
—
Turnover karyawan yang tinggi bukan hanya soal banyaknya karyawan yang resign. Bagi perusahaan, kondisi ini bisa berdampak pada biaya rekrutmen, produktivitas tim, kualitas kerja, hingga stabilitas bisnis secara keseluruhan.
Ketika terlalu banyak karyawan keluar dalam waktu berdekatan, perusahaan perlu melihatnya sebagai sinyal bahwa ada hal yang perlu dievaluasi. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari kompensasi yang kurang kompetitif, jenjang karier yang tidak jelas, beban kerja berlebihan, hingga budaya kerja yang kurang mendukung.
Karena itu, HR dan leader perlu memahami apa itu turnover karyawan, bagaimana cara menghitungnya, apa saja penyebabnya, serta langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi turnover secara berkelanjutan.
Apa Itu Turnover Karyawan?
Turnover karyawan adalah kondisi ketika karyawan keluar dari perusahaan dan posisinya perlu digantikan oleh karyawan baru. Karyawan bisa keluar karena berbagai alasan, seperti resign, pensiun, berakhirnya kontrak kerja, atau keputusan perusahaan untuk mengakhiri hubungan kerja.
Dalam batas tertentu, turnover adalah hal yang wajar. Namun, jika jumlah karyawan yang keluar terlalu tinggi, perusahaan perlu mencari tahu penyebabnya. Turnover yang tidak terkendali dapat mengganggu operasional, menurunkan moral tim, dan membuat perusahaan harus terus mengeluarkan biaya untuk rekrutmen serta pelatihan karyawan baru.
Jenis-Jenis Turnover Karyawan
Secara umum, turnover karyawan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu voluntary turnover dan involuntary turnover.
1. Voluntary Turnover
Voluntary turnover terjadi ketika karyawan memutuskan untuk keluar dari perusahaan atas keinginannya sendiri. Misalnya karena mendapat tawaran kerja yang lebih baik, ingin mencari lingkungan kerja baru, merasa tidak berkembang, atau tidak cocok dengan budaya perusahaan.
Jenis turnover ini penting diperhatikan karena sering kali berkaitan langsung dengan employee experience di perusahaan.
2. Involuntary Turnover
Involuntary turnover terjadi ketika perusahaan yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan kerja dengan karyawan. Penyebabnya bisa berupa performa yang tidak sesuai ekspektasi, restrukturisasi organisasi, efisiensi bisnis, atau pelanggaran kebijakan perusahaan.
Meski berbeda penyebab, kedua jenis turnover ini tetap perlu dikelola dengan baik agar tidak mengganggu stabilitas perusahaan.
Cara Menghitung Turnover Rate
Agar perusahaan bisa memahami seberapa besar tingkat turnover yang terjadi, HR perlu menghitung turnover rate secara berkala.
Rumus turnover rate:
Turnover Rate = (Jumlah karyawan keluar dalam periode tertentu / Rata-rata jumlah karyawan dalam periode tersebut) x 100%
Contohnya, jika dalam satu tahun ada 20 karyawan keluar dan rata-rata jumlah karyawan perusahaan adalah 200 orang, maka turnover rate-nya adalah:
(20 / 200) x 100% = 10%
Dengan menghitung turnover rate, perusahaan dapat memantau tren keluar-masuk karyawan, membandingkan data antar divisi, dan mengidentifikasi area yang membutuhkan perhatian lebih.
Baca Juga : Ciptakan Lingkungan Kerja Setara, Inklusif, dan Bebas Diskriminasi dengan Pelatihan DEI
Penyebab Turnover Karyawan Tinggi
Turnover karyawan yang tinggi biasanya tidak terjadi tanpa alasan. Berikut beberapa penyebab yang umum terjadi di perusahaan:
1. Kompensasi dan Benefit Kurang Kompetitif
Gaji dan benefit tetap menjadi salah satu faktor penting dalam keputusan karyawan untuk bertahan atau keluar dari perusahaan. Jika kompensasi yang diberikan jauh di bawah standar industri atau tidak sebanding dengan beban kerja, karyawan bisa mulai mencari peluang lain yang lebih menarik.
Selain gaji, benefit seperti asuransi kesehatan, fleksibilitas kerja, tunjangan, bonus, dan program kesejahteraan karyawan juga dapat memengaruhi tingkat retensi.
2. Jenjang Karier Tidak Jelas
Karyawan cenderung ingin melihat masa depan mereka di perusahaan. Jika tidak ada kejelasan mengenai career path, promosi, atau peluang pengembangan diri, mereka bisa merasa stagnan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan motivasi dan membuat karyawan mencari tempat kerja yang menawarkan kesempatan berkembang lebih baik.
3. Beban Kerja Berlebihan
Workload yang terlalu tinggi dapat membuat karyawan merasa kewalahan, stres, dan kehilangan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Jika tidak dikelola, beban kerja berlebihan dapat menyebabkan burnout dan meningkatkan keinginan karyawan untuk resign.
HR dan leader perlu memastikan distribusi pekerjaan berjalan adil, realistis, dan sesuai dengan kapasitas tim.
4. Leadership yang Kurang Suportif
Karyawan tidak hanya bekerja untuk perusahaan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan manager atau leader mereka setiap hari. Gaya kepemimpinan yang kurang komunikatif, minim feedback, tidak memberi dukungan, atau terlalu menekan dapat menjadi salah satu alasan kuat karyawan memilih keluar.
Sebaliknya, leader yang suportif dapat membantu meningkatkan engagement, kepercayaan, dan loyalitas karyawan.
5. Budaya Kerja Tidak Sehat
Budaya kerja yang tidak sehat dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti komunikasi yang buruk, minim apresiasi, konflik internal, jam kerja yang tidak wajar, hingga lingkungan kerja yang tidak aman secara psikologis.
Jika karyawan merasa tidak dihargai atau tidak nyaman di tempat kerja, kemungkinan mereka untuk mencari lingkungan baru akan semakin besar.
6. Minimnya Apresiasi
Karyawan ingin merasa bahwa kontribusinya dilihat dan dihargai. Apresiasi tidak selalu harus berupa bonus besar, tetapi bisa berupa feedback positif, pengakuan atas pencapaian, kesempatan berkembang, atau dukungan dari atasan.
Ketika kerja keras tidak pernah diapresiasi, karyawan bisa merasa kurang berarti dalam organisasi.
7. Proses Onboarding Kurang Efektif
Turnover juga bisa terjadi sejak masa awal kerja. Jika karyawan baru tidak mendapatkan onboarding yang jelas, mereka bisa kesulitan memahami peran, ekspektasi, budaya kerja, dan alur komunikasi di perusahaan.
Onboarding yang baik membantu karyawan baru beradaptasi lebih cepat dan merasa lebih percaya diri dalam menjalankan pekerjaannya.
Dampak Turnover Karyawan bagi Perusahaan
Turnover yang tinggi dapat menimbulkan berbagai dampak bagi perusahaan, di antaranya:

1. Biaya Rekrutmen Meningkat
Setiap kali karyawan keluar, perusahaan perlu mengeluarkan biaya untuk mencari kandidat baru. Proses ini mencakup pemasangan lowongan, screening CV, interview, tes, hingga administrasi rekrutmen.
Semakin sering posisi yang sama kosong, semakin besar pula biaya yang perlu dikeluarkan.
2. Produktivitas Tim Menurun
Ketika ada anggota tim yang keluar, pekerjaan biasanya harus dialihkan sementara ke karyawan lain. Hal ini dapat menambah beban kerja tim dan menurunkan produktivitas, terutama jika posisi tersebut memiliki peran penting dalam operasional harian.
3. Knowledge dan Pengalaman Ikut Hilang
Karyawan yang keluar membawa pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman terhadap proses kerja perusahaan. Jika knowledge transfer tidak dilakukan dengan baik, tim yang ditinggalkan bisa mengalami kesulitan untuk melanjutkan pekerjaan secara efektif.
4. Moral dan Engagement Tim Terganggu
Turnover yang tinggi dapat memengaruhi suasana kerja. Karyawan yang masih bertahan mungkin mulai bertanya-tanya tentang kondisi perusahaan atau merasa khawatir dengan masa depan mereka di organisasi.
Jika tidak ditangani, hal ini bisa berdampak pada engagement dan loyalitas tim.
5. Peningkatan Beban Kerja bagi Karyawan yang Tersisa
Ketika karyawan meninggalkan perusahaan, tugas dan tanggung jawab mereka mungkin harus dipindahkan ke karyawan yang tersisa. Ini dapat menyebabkan peningkatan beban kerja bagi karyawan yang sudah ada, yang pada gilirannya dapat meningkatkan tingkat stres dan kelelahan.
6. Mengganggu Hubungan dengan Pelanggan atau Mitra Bisnis
Pergantian karyawan yang sering dapat mengganggu hubungan yang telah dibangun dengan pelanggan atau mitra bisnis. Konsistensi dan kepercayaan dapat terganggu jika pelanggan atau mitra bisnis harus terus berurusan dengan orang yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, manajemen yang efektif dari turnover karyawan menjadi penting bagi perusahaan untuk meminimalkan dampak negatifnya dan memastikan kelangsungan operasional yang lancar.
Baca Juga : Leader Wajib Tahu, Ini 6 Karakteristik Pemimpin yang Efektif
Cara Mengurangi Turnover Karyawan
Untuk menekan turnover, perusahaan perlu memahami penyebab utamanya terlebih dahulu. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan HR dan leader:
1. Lakukan Exit Interview Secara Terstruktur
Exit interview membantu perusahaan memahami alasan karyawan keluar. Agar hasilnya lebih berguna, HR perlu menanyakan hal-hal spesifik seperti:
- Apa alasan utama karyawan resign?
- Apakah workload sudah sesuai?
- Bagaimana pengalaman bekerja dengan manager?
- Apakah karyawan melihat peluang karier di perusahaan?
- Apa yang bisa diperbaiki dari lingkungan kerja?
Data dari exit interview dapat digunakan untuk menemukan pola masalah yang berulang.
2. Pantau Turnover Rate per Divisi
Turnover sebaiknya tidak hanya dilihat secara keseluruhan perusahaan. HR juga perlu menganalisis turnover rate per divisi, jabatan, masa kerja, atau manager.
Jika turnover tinggi hanya terjadi di divisi tertentu, bisa jadi ada masalah khusus yang perlu ditangani, seperti leadership, beban kerja, atau budaya tim.
3. Perbaiki Proses Onboarding
Onboarding yang baik dapat membantu karyawan baru merasa lebih siap dan diterima. Perusahaan bisa membuat program onboarding 30-60-90 hari yang mencakup pengenalan budaya kerja, ekspektasi peran, training dasar, buddy system, dan check-in berkala dengan manager.
Semakin jelas pengalaman awal karyawan, semakin besar peluang mereka untuk bertahan. Pelajari mengenai onboarding yang efektif di artikel Strategi Onboarding Karyawan Baru yang Efektif.
4. Bangun Career Path yang Jelas
Karyawan perlu tahu bagaimana mereka bisa berkembang di perusahaan. HR dapat membantu dengan membuat jalur karier, competency framework, program mentoring, dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan tiap level jabatan.
Career development yang jelas dapat meningkatkan motivasi karyawan untuk bertumbuh bersama perusahaan.
5. Evaluasi Kompensasi dan Benefit
Perusahaan perlu memastikan gaji dan benefit yang diberikan tetap kompetitif dengan pasar. Evaluasi ini bisa dilakukan melalui salary benchmarking, survei internal, atau analisis tingkat resign berdasarkan alasan kompensasi.
Jika belum memungkinkan menaikkan gaji secara besar, perusahaan tetap bisa mempertimbangkan benefit lain seperti fleksibilitas kerja, program kesehatan, insentif, atau learning benefit.
6. Tingkatkan Kualitas Leadership
Manager memiliki peran besar dalam pengalaman kerja karyawan. Karena itu, perusahaan perlu membekali leader dengan kemampuan komunikasi, coaching, feedback, conflict management, dan people management.
Leader yang mampu mendukung tim dengan baik dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif.
7. Jalankan Employee Pulse Survey
Pulse survey membantu perusahaan memahami kondisi karyawan secara berkala. Survei ini bisa digunakan untuk mengukur engagement, kepuasan kerja, workload, hubungan dengan atasan, dan kebutuhan pengembangan karyawan.
Hasil survei dapat menjadi dasar bagi HR untuk mengambil keputusan yang lebih tepat.
8. Ciptakan Budaya Apresiasi
Apresiasi yang konsisten dapat membuat karyawan merasa dihargai. Bentuknya bisa sederhana, seperti ucapan terima kasih, pengakuan dalam meeting, feedback positif, bonus performa, atau kesempatan mengikuti program pengembangan.
Budaya apresiasi membantu meningkatkan rasa memiliki karyawan terhadap perusahaan.
—
Turnover karyawan yang tinggi dapat menjadi tanda bahwa perusahaan perlu mengevaluasi pengalaman kerja karyawan secara menyeluruh. Penyebabnya bisa berasal dari kompensasi, career path, beban kerja, leadership, budaya kerja, hingga kurangnya kesempatan berkembang.
Untuk menguranginya, perusahaan perlu mengambil pendekatan yang lebih strategis. Tidak cukup hanya mengganti karyawan yang keluar, HR dan leader juga perlu memahami akar masalah, membaca data turnover, memperbaiki onboarding, membangun jalur karier, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih suportif.
Salah satu cara untuk meningkatkan retensi karyawan adalah dengan menyediakan program pengembangan yang relevan dan berkelanjutan. Melalui RuangKerja, perusahaan dapat menghadirkan pelatihan karyawan yang lebih terstruktur lewat platform LMS interaktif. Mulai dari onboarding, leadership training, pengembangan skill, hingga program pembelajaran internal, semuanya bisa dikelola dengan lebih mudah dan terukur.
Dengan strategi retensi yang tepat, perusahaan tidak hanya dapat menekan turnover, tetapi juga membangun tim yang lebih loyal, produktif, dan siap berkembang bersama bisnis. Mari konsultasikan bersama Ruangkerja!
Referensi:
Matriano, Joeffri. 2018. Serious Effects of Employee Turnover (online). Link: https://www.linkedin.com/pulse/serious-effects-employee-turnover-joeffri-matriano/ (Accessed: 28 August 2022)
Philips, Jack J. 2004. Managing Retention: A Strategic Accountability Approach [online). ROI Institute. Link: https://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.460.4227&rep=rep1&type=pdf (Accessed: 28 August 2022)
Kappel, Mike. 5 Ways To Reduce Employee Turnover (online). Forbes. Link: https://www.forbes.com/sites/mikekappel/2017/08/09/5-ways-to-reduce-employee-turnover/?sh=71b95ee85001 (Accessed: 28 August 2022)
![[IDN] CTA Tengah 1 Blog Ruangkerja Pelatihan Efektif RGFB](https://cdn-web.ruangguru.com/landing-pages/assets/cta/42133210-c3d9-45b8-b7c6-2fe7faaf7756.jpeg)

