Pentingnya Keamanan Psikologis di Lingkungan Belajar

Muhammad Azka Rais Jun 25, 2021 • 6 min read


keamanan psikologis tempat kerjaArtikel ini membahas mengenai keamanan psikologis di lingkungan belajar.

--

Saat ini perusahaan-perusahaan tidak hanya bersaing antar sesamanya, tetapi diharuskan juga menang melawan pandemi COVID-19. Karena pandemi ini tidak dapat diprediksi, maka pencapaian perusahaan juga tidak tentu. Terkadang mengalami kenaikan, tapi terkadang juga mengalami penurunan.

Untuk menanggulangi hal tersebut, perusahaan dapat memperkuat tim yang bekerja untuk mereka dengan memberikan keamanan secara psikologis, dengan strategi pembelajaran dan pengembangan. Pembelajaran dan pengembangan dapat memperkuat tim dan para pekerja. Perusahaan bisa memerintah para pekerjanya untuk mengikuti suatu seminar, atau memberikan kelas seminar sendiri kepada mereka.

Meski sudah melewati bangku sekolah dan kuliah, pekerja yang belajar kembali di dalam kelas seminar, bisa jadi mendapatkan ketidakamanan secara psikologis. Mungkin rekan Anda menjadi salah seorang yang mengalami hal itu. Misalnya tidak berani bertanya, takut malu ketika salah menjawab pertanyaan, atau malu karena berada di kelas yang mayoritas pesertanya masih anak muda, sedangkan rekan Anda merasa sudah cukup berumur.

Masalahnya, jika para pekerja ini tidak memiliki rasa aman secara psikologis, kemungkinan besar tidak ada yang mereka pelajari. Pada akhirnya tidak akan memberikan hasil yang baik.

Abraham H. Maslow, seorang psikologi asal Amerika membuat teori motivasi seseorang secara psikologis dalam bentuk piramida sebagai berikut.

piramida maslow

 

1. Kebutuhan Fisik 

Melihat dari piramida Maslow, kebutuhan fisik menjadi hal yang mendasar untuk membuat seseorang dapat bekerja secara optimal. Misalnya dengan makan, minum, tempat tinggal dan sebagainya.

 

2. Keamanan dan Kenyamanan

Setelah kebutuhan fisiknya terpenuhi, seseorang membutuhkan keamanan dan kenyamanan. Hal ini meliputi lingkungan yang aman baginya, terdapat keamanan secara psikologis, keseimbangan sosial, kesehatan dan lain-lain.

 

3. Kebutuhan akan Rasa Memiliki dan Menyayangi.

Melalui interaksi sosial, kebutuhan seseorang akan rasa memiliki dan menyayangi dapat terpenuhi. Misalnya hubungan antar rekan kerja, antar teman, keluarga dan pasangan. Selain itu dapat juga terpenuhi jika menjadi bagian dari sebuah kelompok. Kebutuhan ini meliputi rasa pertemanan, intimasi, kepercayaan dan penerimaan.

 

4. Kebutuhan untuk Dihargai

Hal ini membuat seseorang untuk merasa dihargai oleh diri sendiri dan orang lain. Untuk mencapainya ia akan menguasai suatu bidang, meningkatkan status sosial, mampu untuk bekerja secara mandiri, serta memiliki berbagai pencapaian.

 

5. Kebutuhan Aktualisasi Diri

Kebutuhan ini menjadi puncak dari kebutuhan seseorang. Orang tersebut akan menyadari potensi dirinya dan memiliki pengalaman yang cukup banyak. Biasanya ia akan terfokus pada sesuatu yang sangat spesifik. Misalnya menjadi sekretaris yang handal, seorang orang tua yang ideal, atau pemimpin yang baik.

Banyak perusahaan sudah dapat memenuhi kebutuhan fisik seseorang, dengan misalnya memberikan katering atau uang konsumsi selama jam makan siang di hari kerja. Tapi tidak semua perusahaan dapat memberikan keamanan dan kenyamanan yang pekerjanya butuhkan.

Sebagaimana contoh sebelumnya, seseorang yang sedang mengikuti program pembelajaran dan pengembangan dari perusahaan takut ketika mengajukan pertanyaan atau menjawab dengan salah, nantinya akan dipermalukan. Atau tidak merasa cocok karena mayoritas peserta lebih muda dibandingkan dengannya. Dengan memiliki ketidakamanan secara psikologis ini akan menghambatnya untuk menuju tahap yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Dengan demikian, perusahaan perlu untuk memberikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi para pekerjanya. Hal ini dapat dilakukan perusahaan dengan mewujudkan 3 komponen organisasi pembelajar.

 

komponen organisasi belajar

1. Lingkungan Belajar yang Suportif

Perusahaan atau pimpinan dapat membuat lingkungan belajar yang suportif dengan berbagai macam cara. Menormalisasikan kesalahan misalnya. Kesalahan tentunya tidak selalu negatif, karena dapat memberikan pelajaran kepada seseorang. Oleh karena itu, setelah seseorang melakukan kesalahan, berikanlah waktu untuk refleksi diri dan diskusi. Berikan dorongan kepada mereka untuk berani mengambil risiko tanpa perlu takut dipermalukan.

 

2. Proses dan Praktek Pembelajaran yang Jelas

Miliki perencanaan pembelajaran yang jelas untuk para pekerja. Dengan ini, perusahaan dapat menentukan perkembangan apa yang dibutuhkan paling dini. Selain itu, ketika proses pembelajaran berlangsung, lebih baik jika prosesnya dapat terekam. Hal ini dilakukan agar para pekerja dapat melihat perkembangan mereka sejauh apa dan kira-kira strategi apa yang belum terlaksana dengan baik. Sehingga ketika terjadi kegagalan, mereka tidak bingung mencari akar permasalahannya.

 

3. Kepemimpinan yang Mendukung Proses Pembelajaran

Memiliki pemimpin yang mendukung proses pembelajaran dapat membantu pesertanya untuk mengeluarkan seluruh potensi yang dimiliki, dan memastikan pendapat mereka didengarkan dan penting. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan contoh sebagai pendengar yang baik dan mengajak mereka untuk mendengarkan sesama.

Selain itu pimpinan dapat memberikan pengalaman mereka ketika berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Berbagi cerita bagaimana kesalahan, rasa takut dan emosi datang saat masih menjadi staf. kemudian diskusikan bagaimana ia dan timnya berhasil menghadapi masalah yang dihadapi melalui proses belajar.

Selain itu, berikan lingkungan belajar yang menantang dan kreatif tanpa membuat peserta takut untuk melakukan kesalahan. Ajak mereka untuk saling mendengarkan, memberi masukan dan bertanya. Beri penekanan bahwa kesalahan adalah kesempatan untuk belajar.

Memiliki lingkungan belajar yang aman secara psikologis akan membuat para pekerja berkembang dan produktif. Sehingga tantangan dan rintangan yang dihadapi perusahaan dapat ditaklukkan dengan baik, dan tidak takut dengan risiko yang hadir secara beriringan.

Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga keamanan psikologi di lingkungan belajar karyawan. Nah, bagi Anda yang sedang mencari platform untuk membantu mengadakan pelatihan karyawan, ruangkerja siap membantu perusahaan Anda.  Karena ruangkerja dapat melaksanakan pelatihan yang ramah untuk multigenerasi, yang mana juga dilengkapi dengan beberapa fitur seperti:

  1. Collaboration, memungkinkan setiap peserta untuk dapat berkolaborasi dengan peserta lainnya atau dengan ahli melalui forum diskusi. 
  2. Mobile learning, belajar jadi lebih fleksibel. Peserta dapat menyelesaikan pelatihan kapan saja di mana saja tanpa mengganggu jam kerja.
  3. Learning journey,dengan pendekatan belajar yang terstruktur dan sistematis cocok untuk karyawan atau profesional yang sibuk.

Pelatihan Karyawan ruangkerja

Sumber:

Sanders, Loren. 2021. ‘Psychological Safety in the Learning Environment’ [online]. Link: https://trainingindustry.com/articles/diversity-equity-and-inclusion/psychological-safety-in-the-learning-environment/ (accessed: 21 June 2021)

Sri, Vivek.  ND. ‘Why Learning at Work Starts with Psychological Safety’ [online]. https://wavelength.asana.com/workstyle-the-building-blocks-of-learning-organizations-2/#close (accessed: 22 June 2021)

Kerry, Michelle. 2020. ‘How L&D Can Help You Build a Sense of Psychological Safety in Times of Uncertainty’ [online].  https://www.eleapsoftware.com/how-ld-can-help-you-build-a-sense-of-psychological-safety-in-times-of-uncertainty/ (accessed: 21 June 2021)

Mckinsey & Company. 2021. ‘Psychological Safety and The Critical Role of Leadership Development’ [online]. https://www.mckinsey.com/business-functions/organization/our-insights/psychological-safety-and-the-critical-role-of-leadership-development# (accessed: 22 June 2021)

McLeod, Saul. 2020. ‘Maslow’s Hierarchy of Needs’ [online]. Link:https://www.simplypsychology.org/maslow.html (accessed: 21 June 2021)

Profile

Muhammad Azka Rais

Beri Komentar