Apa Itu Design Thinking? Penerapan dan Manfaatnya Bagi Perusahaan

Vindiasari Yunizha Nov 24, 2021 • 8 min read


Design thinking

Design thinking bisa digunakan untuk memecahkan masalah secara efektif dengan memahami pengguna dan kebutuhannya serta membuat definisi ulang permasalahannya.

--

Design thinking adalah serangkaian proses kognitif, strategis, dan praktis yang berulang; digunakan untuk memecahkan masalah dan menciptakan solusi inovatif yang tidak terpikirkan sebelumnya (out of the box) dengan berusaha memahami pengguna dan kebutuhannya, tidak membuat asumsi, dan membuat definisi ulang permasalahannya. Design thinking dikenal pula sebagai Business of Experience (BX). Pasalnya, design thinking bisa menjadi jembatan Anda untuk menghubungkan antara kebutuhan bisnis dan pengembangan kapasitas.

Hasil dari penerapan design thinking yang diharapkan adalah solusi pembelajaran yang efektif selaras dengan kebutuhan bisnis dan pengembangan kapasitas. Prinsip atau elemen dari design thinking ini adalah mewujudkan dan menciptakan nilai-nilai atau melahirkan ide-ide baru dalam perusahaan.

Solusi Yang Berpusat Pada Ide Manusia Kreatif

Dibandingkan mengeluarkan inovasi produk yang nantinya tidak digunakan, perusahaan atau organisasi berupaya untuk melihat apa yang benar-benar dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah. Maka dari itu, mencari solusi yang berpusat pada ide manusia kreatif adalah pokok penting dalam design thinking. Namun, bukan berarti inovasi produk tidak dibutuhkan. Kita harus mengetahui terlebih dahulu sebelumnya terkait kebutuhan perusahaan untuk mengatasi masalah.

Proses inovasi ini sangat berguna untuk mendapatkan pemecahan masalah yang tidak jelas atau sesuatu yang tidak diketahui, dengan membingkai masalah tersebut berpusat pada manusia penggunanya. Ini harus menjadi pokok bahasan yang tak boleh dilewatkan bagian pengembangan kapasitas manusia learning and development (L&D) dalam perusahaan. Selain itu, tim L&D bisa menggunakan pola pemikiran desain (design thinking) untuk menemukan ide yang lebih baik dan inovasi baru dari organisasinya.

Merujuk dari laporan Global Human Capital yang dipublikasikan Deloitte tahun 2016 berjudul 'Crafting the employee experience' disebutkan design thinking menjadi masalah penting yang dihadapi Human Resources dan Learning Development. Namun lebih dari 70 persen manajer SDM mengungkapkan bahwa banyak program pelatihan yang ketinggalan zaman. Mereka menyebut menempatkan karyawan sebagai pusat pertimbangan dapat membantu tim merancang L&D dengan efisiensi.

Design thinking merupakan metodologi untuk mengembangkan inovasi bisnis yang cukup populer diterapkan di berbagai perusahaan ternama - khususnya di bidang teknologi. Terdapat lima elemen atau tahapan dalam menerapkan proses design thinking menurut Mosaic Background Stanford’s Design Thinking Process Strategic Analysis.

5 Elemen Proses Design Thinking

Design thinking

Stanford School of Design adalah salah satu sekolah desain terbaik di Amerika Serikat dan tempat lahirnya teori desain pemikiran. Profesor David Kelly, pendiri sekolah, menyebutkan lima tahap design thinking yaitu: empathize, define ideate, prototype, dan test. Berikut adalah kelima tahapan design thinking:

1. Empathize

Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah membangun empati dengan pengguna. Empathize atau empati dapat dilakukan dengan menekankan emosi pada perspektif pemikiran pengguna. Anda bisa mencoba merasakan emosi dari sisi pengguna, kemudian Anda akan memahami posisi dan perasaan pengguna. Dengan memahami psikologi orang, maka akan mudah mengidentifikasi masalah dan memahami solusi dari permasalahan yang dihadapi. Solusi yang ada digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengguna.

Langkah nyata yang bisa dilakukan dalam tahapan empathize adalah memerhatikan umpan balik dari pengguna produk atau output yang dikembangkan dalam produk. Kemudian konsultasikan hal tersebut dengan berbagai pihak ahli untuk memudahkan dan memecahkan masalah. Tidak hanya harus mengembangkan keuntungan dalam bisnis, kita perlu meningkatkan hubungan dengan pengguna, agar masalah yang ditemukan perusahaan dapat diselesaikan.

2. Define 

Mendefinisikan ulang (define) adalah tahapan kedua dari proses ini. Anda dihadapkan untuk mendefinisikan masalah dari informasi atau umpan balik yang terkumpul dari tahapan sebelumnya. Yang harus diperhatikan, psikologi pengguna tetap ditekankan dan tuliskan masalah dalam satu atau dua kalimat singkat terkait masalah yang dihadapi.

3. Ideate

Dalam tahap ini, Anda diajak untuk mengumpulkan ide, lalu menentukan dan mencari solusi dari permasalahan yang ada. Oleh karena itu, proses brainstroming akan menghasilkan ide sebagai pemecahan masalah. Dalam proses menemukan solusi terdapat beberapa tools atau alat yang bisa digunakan misalnya menggunakan kerangka berpikir (mind mapping) hingga brainstroming. Dengan membuat kerangka berpikir, perusahaan dapat dengan efektif membuat pengembangan produk.

4. Prototype 

Setelah brainstorming, Anda memiliki banyak solusi. Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi solusi dan membuatnya dalam bentuk prototipe. Membuat prototipe berarti adalah membuat perubahan akhir atau penambahan bentuk atau fitur baru dari suatu produk. Prototype ini merupakan visualisasi dari bentuk nyata solusi untuk permasalahan yang ada.

5. Test

Pada tahap terakhir, setelah pembuatan prototipe selesai, Anda harus menguji secara langsung prototype yang Anda buat. Banyak orang menganggap pengujian sebagai langkah opsional, tetapi sebenarnya tidak. Penting untuk dipahami, bahwa umpan balik dari produk pengujian seringkali memungkinkan jadi bahan evaluasi dari solusi. Ini adalah proses untuk menjawab pertanyaan apakah perusahaan mendapatkan dampak positif atau sebaliknya? Hal ini dilakukan untuk menentukan apakah ide yang telah dihasilkan efektif atau tidak. 

 

Manfaat yang dapat diperoleh dengan menerapkan design thinking dalam perusahaan di antaranya:

1. Pola pikir design thinking jadi jembatan tujuan bisnis dan pengembangan kapasitas karyawan. 

Bicara soal tujuan bisnis, pastinya mengejar keuntungan atau biasa disebut dengan Return of Investment (ROI). Tak dipungkiri hal tersebut sering bertentangan dengan tujuan pengembangan kapasitas karyawan. Apalagi dalam proses pelatihan pastinya butuh biaya tersendiri.

Kehadiran design thinking bermanfaat dalam proses penghematan pengeluaran. Selain menghemat pengeluaran, hal ini dapat meningkatkan ROI perusahaan.

2. Design thinking berfokus pada solusi. 

Mayoritas perusahaan sangat menghargai pengalaman pelanggan. Demikian pula, design thinking yang berfokus pada pengalaman karyawan dengan memberi mereka solusi yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Konsep tersebut selaras dengan experiental learning yang dicetuskan David Kolb.

3. Menciptakan hubungan lebih erat dengan pelanggan (loyalitas). 

Design thinking mampu menyediakan teknologi pembelajaran yang lebih berkaitan dengan keseharian pelanggan. Dalam organisasi, pelanggan yang dimaksud adalah karyawan. Pelatihan yang diterapkan dengan mengedepankan design thinking akan menghasilkan pengembangan kapasitas yang senada dengan masalah keseharian. Fokus pelatihan yang berporos pada karyawan cenderung menumbuhkan loyalitas pegawai dalam perusahaan.

4. Menciptakan ide-ide dan solusi yang inovatif. 

Design thinking menekankan pada pencarian solusi. Dengan menerapkan metode ini, akan banyak ide yang bisa dikembangkan. Perusahaan juga dapat menciptakan berbagai inovasi terbaik yang menguntungkan dengan design thinking. Ide atau inovasi tersebut bernilai mahal karena bisa membantu pengembangan perusahaan. Pola pikir kreatif ini diperlukan untuk meningkatkan produktivitas karyawan. Sehingga masalah yang ada dalam bisnis dapat teratasi.

5. Lebih efisien dan bisa diterapkan di berbagai bidang.

Pendekatan yang solutif dari design thinking bisa digunakan di berbagai bidang perusahaan. Apalagi design thinking ini menekankan pada sisi pelanggan atau pengguna. Keberadaan perusahaan baik jasa maupun barang, pastinya tetap memerlukan masukan atau umpan balik yang membangun dari pelanggan guna meningkatkan produk/jasanya.

Kalau ingin membangun design thinking untuk perusahaan Anda, kini RuangKerja  memiliki pelatihan fitur-fitur yang dapat mendukung suksesnya pengembangan pola pikir design thinking untuk karyawan. Apalagi Ruangkerja dilengkapi dengan fitur-fitur sebagai berikut:

  1. Rewards point, peserta dapat memperoleh poin yang dapat ditukarkan dengan hadiah sesuai keinginan perusahaan. 
  2. Leaderboards, memicu peserta untuk menyelesaikan pelatihan dengan skor tinggi.
  3. Collaboration, setiap peserta dapat berkolaborasi dengan peserta lainnya melalui forum diskusi.

Berbagai perusahaan telah bergabung dengan Ruangkerja, kini giliran Anda! Tunggu apalagi?

Pelatihan Karyawan ruangkerja

Referensi:

Granahan, Lauren. Dygert, Clare. 2019. Design Thinking: Creating Authentically Learner-Centric Solutions [online]. Link: https://trainingindustry.com/magazine/nov-dec-2019/design-thinking-creating-authentically-learner-centric-solutions/ (Accesed: 26 Oktober 2021).

de Geus, Marijn. 2017. 4 Principles of Design Thinking that Improve Learning and Development [online]. Link: https://trainingindustry.com/articles/learning-technologies/4-principles-of-design-thinking-that-improve-learning-and-development/ (Accesed: 26 Oktober 2021).

Salem, Fadi. Bhavaraju, Jacqueline. 2021. Transform Your Learning Experiences With Design Thinking: 4 Tips to Consider [online]. Link:https://trainingindustry.com/articles/content-development/transform-your-learning-experiences-with-design-thinking-4-tips-to-consider/ (Accesed: 26 Oktober 2021).

InfoART. 2021. Mosaic Background Stanford’s Design Thinking Process Strategic Analysis [online]. Link:https://online.visual-paradigm.com/infoart/templates/strategic-analysis/mosaic-background-stanford%E2%80%99s-design-thinking-process-strategic-analysis/ (Accessed: 26 Oktober 2021). 

Accenture. 2020. Why people are at the center of design thinking [online]. Link: https://www.accenture.com/us-en/blogs/blogs-careers/why-people-are-at-the-center-of-design-thinking (Accessed: 26 Oktober 2021).

Profile

Vindiasari Yunizha

Beri Komentar