Cara Menyelaraskan Kebutuhan Individu dan Perusahaan Setelah Pandemi

menyelaraskan kebutuhan individu dan perusahaan

Artikel ini menjelaskan bagaimana tren yang akan terjadi pada budaya kerja setelah berakhirnya pandemi Covid 19. Bagaimana cara menyelaraskan kebutuhan individu atau karyawan, dengan perusahaan. 

Pandemi Covid 19 telah menjadi titik balik bagi karyawan dalam menentukan pilihan kariernya. Hal senada diungkapkan oleh Susan Lund, Ketua McKinsey Global Institute bahwa pandemi menjadi momen ‘forced pause’ bagi karyawan. Ia menjelaskan bahwa ada perubahan psikologis yang dialami karyawan setelah menerapkan bekerja secara remote. 

Perubahan psikologis karyawan usai menjalani budaya kerja baru selama pandemi Covid 19 ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan. Survei di Amerika Serikat menyebut 39% karyawan mempertimbangkan untuk resign jika mengharuskan kembali bekerja di kantor. Mereka memiliki perubahan pola pikir terhadap kariernya. 

Perubahan kondisi pola pikir soal karier merupakan bagian dari proses growth mindset atau pola pikir berkembang yang dilalui karyawan. Pola pikir (mindset) bisa menjadi penentu dari sukses atau gagalnya sebuah organisasi. Oleh sebab itu, Anda perlu memahami betapa pentingnya membangun growth mindset dalam organisasi maupun kehidupan sehari-hari.

Growth mindset menjadi faktor penentu dalam menciptakan strategi pengembangan karier dalam perusahaan. Pola pikir berkembang ini memungkinkan adanya peningkatan kapasitas sumberdaya manusia yang nantinya bisa berpengaruh pada kinerja perusahaan.  

budaya kerja

Ilustrasi kerja virtual. Sumber: unplash.com

Sikap proaktif pemimpin di tengah perubahan tidaklah mudah. Anda perlu menerapkankan kepemimpinan yang mengedepankan konsep learning & development (L&D). Dengan begitu, pemimpin bisa tanggap dengan situasi yang dihadapi para karyawannya. 

Pemimpin yang kurang mampu beradaptasi dengan perubahan cenderung meremehkan dampak perubahan pola pikir. Sebaliknya, perusahaan akan menuntut lebih banyak kepada karyawan. Tuntutan tersebut menurunkan motivasi dan produktivitas, hingga tak sedikit yang memilih melepas pekerjaannya. Apalagi pandemi Covid 19 telah mengubah budaya kerja bahwa bekerja tak melulu harus ke kantor, melainkan bisa dilakukan secara jarak jauh. 

Usai menjalani hidup dan beradaptasi dengan aktivitas yang serba terbatas saat pandemi. Karyawan tak bisa menghindari burnout atau kelelahan dalam bekerja. Terlebih, bekerja secara virtual menjadi tantangan baru bagi karyawan. Karyawan tak jarang kesulitan untuk menyelaraskan antara kehidupan pribadi dan pekerjaannya. 

Menghadapi perubahan pola pikir dalam dunia kerja, pemimpin sebaiknya menerapkan pendekatan Accelerated Development Model (ADM). ADM menawarkan paradigma kepada pemimpin agar lebih menyelaraskan kebutuhan dan nilai-nilai di seluruh organisasi dan individu, terutama selama masa perubahan.

budaya kerja

Sumber: Vantageleadership.com

 

Baca juga: Bagaimana Menciptakan Keamanan Psikologis dalam Lingkungan Kerja Virtual?

Merujuk dari Vantage Leadership Consulting, kerangka Accelerated Development Model ini memperhatikan beberapa hal di antaranya yang nilai-nilai yang diinginkan karyawan, nilai organisasi atau perusahaan, hal tersebut saling bersinergi membantu karyawan memahami kebutuhan dan proposisi nilainya, dan bagaimana mereka menyeimbangkan dengan kebutuhan dan proposisi nilai organisasi. 

Mewujudkan nilai organisasi dan nilai karyawan bisa sama-sama ditumbuhkan dalam kerja sehari-hari. Bagaimana caranya? Berikut langkah menyelaraskan kehidupan dengan organisasi dengan menggunakan kerangka Accelerated Development Model (ADM):

  1. Memahami kebutuhan karyawan

Perusahaan tak melupakan kebutuhan akan aktualisasi dari karyawannya. Oleh sebab itu, sebaiknya pemimpin memberikan fasilitas pengembangan diri untuk karyawannya. Ketika menerapkan kerja remote, perusahaan mulai memerhatikan hal-hal apa yang dibutuhkan karyawan untuk mempermudah bekerja dari rumah. Misalnya menyediakan subsidi kuota internet untuk membantu produktivitas bekerja. 

Berbicara mengenai produktivitas karyawan, setiap perusahaan memiliki  pelatihan untuk mengembangkan kompetensi karyawan. Jika sebelum pandemi, pelatihan dilaksanakan dengan tatap muka. Ironisnya saat pandemi, kegiatan tersebut dilakukan secara virtual atau disebut virtual instructor-led training (VILT) tanpa mengubah proses pembelajaran.  

  1. Memahami proposisi nilai anggota tim

Sebagai pemimpin, memastikan peran dan keberadaan anggota tim atau karyawan sangat diperlukan mengingat bekerja secara virtual tidak bisa dihindarkan.  Keterampilan dari masing-masing karyawan dimaksimalkan dengan memasukkan ke divisi yang mampu mengembangkan keahliannya. Hal tersebut selaras dengan tujuan perusahaan. 

  1. Memahami kebutuhan organisasi

Perusahaan tak lupa memberikan pengertian kepada karyawan terkait kebutuhan dan tujuan organisasi. Pemimpin memberikan informasi dengan jelas terkait aturan kerja yang diterapkan di kantor. Misalnya mengapa perusahaan menerapkan kembali  pentingnya bekerja di kantor? Berikan alasan yang masuk akal dan rasional agar karyawan mampu memahaminya.

  1. Memahami proposisi nilai organisasi

Sama halnya dengan memahami kebutuhan karyawan, pemimpin juga sebaiknya memasukkan elemen-elemen dari proposisi nilai organisasi, misalnya, budaya, kompensasi, pengembangan karier, dan lain-lain.Tujuan apa yang ingin dicapai oleh perusahaan atau organisasi menjadi bagian penting yang sebaiknya diberitahukan pada karyawan. 

Dengan menerapkan pendekatan kerangka ADM, maka akan menciptakan budaya kerja yang saling terbuka. Secara perlahan tujuan untuk menyeimbangkan kehidupan pribadi dengan karier menjadi lebih tertata.  Pemimpin dapat memberikan fasilitas yang terbaik sekaligus mencapai tujuan organisasi. Di samping itu, karyawan merasa pemimpin mampu memerhatikan kesejahteraan karyawannya. Karyawan akan terus berupaya memberikan yang terbaik, untuk aktualisasi diri maupun organisasi. Dengan begitu, angka turn over atau karyawan yang keluar masuk perusahaan menjadi berkurang. 

Ruangkerja menyediakan fitur-fitur yang dapat mendukung suksesnya pengembangan blended learning untuk pelatihan di perusahaan Anda. Karena ruangkerja dilengkapi dengan fitur-fitur sebagai berikut:

  1. Rewards point, peserta dapat memperoleh poin yang dapat ditukarkan dengan hadiah sesuai keinginan perusahaan. 
  2. Leaderboards, memicu peserta untuk menyelesaikan pelatihan dengan skor tinggi.
  3. Collaboration, setiap peserta dapat berkolaborasi dengan peserta lainnya melalui forum diskusi.

Berbagai perusahaan telah bergabung dengan ruangkerja, kini giliran Anda! 

[IDN] CTA Bawah Blog Ruangkerja Pelatihan Karyawan RGFB

Sumber: 

Bloomberg. 2021. Return to Office Employees are Quitting Instead of Giving Up Work from Home [online]. Link https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-06-01/return-to-office-employees-are-quitting-instead-of-giving-up-work-from-home (accessed: 12 August 2021). 

Dweck, Carol. 2016. What Having a Growth Mindset Actually Means [online]. Link https://hbr.org/2016/01/what-having-a-growth-mindset-actually-means (accessed: 14 August 2021)

Linnaberry, Eileen. Etc. 2021. A Strategic Priority: Aligning Individual and Organizational Needs Post Pandemic [online]. Link: https://trainingindustry.com/articles/strategy-alignment-and-planning/a-strategic-priority-aligning-individual-and-organizational-needs-post-pandemic/ (accessed: 14 August 2021).

Pandey, Asha. 2021. Building a Mindset of Growth and Learning Among Employees [online]. Link: https://trainingindustry.com/articles/strategy-alignment-and-planning/building-a-mindset-of-growth-and-learning-among-employees-spon-eidesign/  (Acessed: 16 August 2021). 

Sowinski, David. 2021. Rethinking The Model for Leadership Development Plans [online]. Link: https://www.vantageleadership.com/our-blog/powerful-model-for-development-planning/ (accessed: 14 August 2021)

Vindiasari Yunizha