{"id":43,"date":"2024-02-16T07:32:21","date_gmt":"2024-02-16T00:32:21","guid":{"rendered":"https:\/\/example.com\/?p=43"},"modified":"2024-02-15T22:07:32","modified_gmt":"2024-02-15T15:07:32","slug":"impostor-syndrome","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome","title":{"rendered":"Mengenal Impostor Syndrome, Ini Bahayanya di Dunia Kerja"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" style=\"height: auto; max-width: 100%; width: 3417px;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/impostor-syndrome.jpg\" alt=\"impostor-syndrome\" width=\"3417\" height=\"1708\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Orang dengan impostor syndrome sering merasa tidak aman, khawatir akan terbongkar sebagai &#8220;penipu&#8221; atau &#8220;palsu&#8221;, dan cenderung meremehkan prestasi mereka sendiri. Di dunia kerja, impostor syndrome akan sangat berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Bagaimana cara mengatasinya?<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah Anda pernah merasa tidak kompeten jika dibandingkan dengan rekan kerja lain? Mungkin yang menjadi persoalan bukanlah pada kemampuan Anda yang tidak setara dengan karyawan lain. Melainkan merasa tidak yakin dengan kemampuan diri padahal sudah sesuai yang diharapkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal-hal seperti ini memang biasa terjadi di dunia kerja. Apakah Anda sudah mengenalnya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang Anda dan sebagian besar orang rasakan ini disebut sebagai <em>impostor syndrome<\/em>. Kira-kira, apa yang membuat Anda demikian? Bagaimana cara mengatasi hal tersebut? Simak selengkapnya di artikel berikut ini!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Definisi Impostor Syndrome<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cApa yang saya lakukan di sini?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKinerja saya tidak sebaik orang lain.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya tidak berhak mendapatkan tanggung jawab besar seperti ini.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mungkin kalimat-kalimat tersebut dan ungkapan lainnya yang serupa pernah Anda katakan. Mengungkapkan kalimat-kalimat negatif seperti itu merupakan beberapa tanda Anda mengalami <em>impostor syndrome<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: bold;\"><em>Impostor syndrome <\/em>adalah keadaan psikologis yang menggambarkan pola perilaku seseorang yang sering kali meragukan diri sendiri atau bahkan tidak merasa pantas meraih pencapaian dan kesuksesannya sendiri.<\/span> Meskipun demikian, <em>impostor syndrome <\/em>bukanlah merupakan gangguan mental.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perasaan yang datang beriringan dengan <em>impostor syndrome <\/em>bisa berupa kegelisahan, kegugupan dan penyampaian kalimat-kalimat negatif kepada diri sendiri. Bahkan gejala depresi dan gangguan kecemasan dapat muncul dengan adanya <em>impostor syndrome<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seseorang yang mengalami <em>impostor syndrome <\/em>bisa merasa pencapaian yang dihasilkan oleh keringatnya sendiri merupakan kebetulan atau hanya keberuntungan saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bukanlah hasil kerja keras dirinya sendiri. Perasaan-perasaan tersebut juga diikuti dengan ketakutan bahwa jati dirinya yang asli akan terkuak, dan ia akan dianggap sebagai penipu oleh orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika Anda merasa mengalami <em>impostor syndrome<\/em> di dunia kerja, Anda tidak sendirian. Terdapat penelitian di tahun 2019 mengenai <em>impostor syndrome<\/em>, tercatat bahwa 9 hingga 82 persen pekerja mengalami kondisi psikologis tersebut. Kondisi ini juga dialami oleh beragam profesi, mulai dari lulusan kuliah hingga para eksekutif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-weight: bold;\">Baca Juga: <a href=\"\/blog\/project-based-learning-adalah\" rel=\"noopener\">Project Based Learning, Pembelajaran yang Menghasilkan Solusi Terbaik<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Tanda-Tanda Impostor Syndrome<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berikut adalah tanda-tanda Anda mengalami <em>impostor syndrome<\/em>:<\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Sering meragukan kemampuan diri sendiri<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Sering menghubungkan kesuksesan dan pencapaian diri dengan faktor eksternal<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Tidak mampu menilai kompetensi dan keterampilan diri secara objektif<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Merasa takut gagal<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Merasa kecewa hingga frustrasi saat tidak mampu memenuhi standar yang ditetapkan sendiri<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Membebani kinerja diri sendiri<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Menyabotasi kesuksesan diri sendiri<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Mengejar pencapaian secara berlebihan<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena merasa demikian, seseorang yang mengalami <em>imposter syndrome <\/em>akan memotivasi dirinya sendiri dan terus bekerja lebih keras sampai memenuhi standar yang ditetapkannya sendiri agar ia tidak dianggap penipu oleh orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: center;\">Untuk memaksimalkan kinerja tim, mereka perlu memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dalam menghadapi setiap tugas sehingga bisa menyelesaikannya dengan optimal. Bagaimana cara membentuk kepercayaan diri yang tinggi? Mari, latih kepercayaan diri tim Anda melalui pelatihan\u00a0<span style=\"font-weight: bold;\">Ruangguru for Business\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: normal;\">dari\u00a0<span style=\"font-weight: bold;\">Ruang Kerja<\/span><span style=\"font-weight: normal;\">. Daftar sekarang!<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a class=\"rg-cta\" style=\"text-align: center;\" href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/bisnis\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/cta\/6c763aac-e3e5-48bf-be4a-7e5f5ec1d42f.jpeg\" alt=\"[IDN] CTA Tengah 2 Blog Ruangkerja Pelatihan Efektif RGFB\" width=\"820\" height=\"200\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Tipe-Tipe Impostor Syndrome<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Terdapat beberapa tipe <em>imposter syndrome<\/em>, yaitu sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">1. The Perfectionist<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Tipe <em>impostor syndrome <\/em>perfeksionis meyakini bahwasannya setiap pekerjaan atau tanggung jawab harus diselesaikan dengan sempurna dan tidak ada kesalahan. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Jika ada kesalahan satu saja, maka seseorang dengan tipe tersebut akan merasa tidak kompeten di bidangnya. Ia juga meyakini orang lain akan berpikir bahwa ia tidak sekompeten yang diharapkan.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">2. The Expert<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Tipe <em>impostor syndrome <\/em>ini merasa harus menjadi ahli dalam bidang yang ditekuninya. Orang yang mengalami hal ini akan merasa dirinya seorang penipu karena tidak mengetahui apa yang seharusnya ia kuasai. Sehingga dirinya harus belajar secara berlebihan agar bisa menguasai bidangnya.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">3. The Natural Genius<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Jika Anda merupakan salah seorang yang merasa menjadi seorang penipu hanya karena Anda tidak yakin bahwa Anda cerdas atau berkompeten, maka Anda termasuk tipe <em>natural genius<\/em>. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Pada tipe ini, Anda merasa harus bisa menjawab, melakukan sesuatu dengan benar atau lama untuk menguasai suatu keterampilan, jika tidak maka Anda merasa seperti seorang penipu.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">4. The Soloist<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Pada tipe ini, Anda merasa menjadi seorang penipu jika harus meminta bantuan seseorang untuk meraih suatu pencapaian atau mendapatkan sebuah status. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Hal ini karena Anda merasa tidak bisa meraih sesuatu dengan usaha sendiri, sehingga Anda mempertanyakan kemampuan dan kompetensi Anda.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">5. The Super person<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Tipe <em>imposter syndrome <\/em>yang ini membuat Anda harus menjadi seorang pekerja keras yang bisa meraih suatu pencapaian tertinggi. Jika tidak, Anda akan merasa Anda adalah seorang penipu.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Cara Mengatasi Impostor Syndrome<\/span><\/h2>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">1. Akui Perasaan Anda<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px; color: #000000;\">Dengan mengakui dan mengidentifikasi perasaan yang datang beriringan dengan <em>impostor syndrome <\/em>dapat menghasilkan beberapa tujuan, yaitu sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-size: 16px; color: #000000;\">Berbicara kepada rekan kerja Anda, mentor atau atasan Anda mengenai kesulitan yang Anda alami dapat membantu Anda mendapatkan pengetahuan dan konteks di luar situasi yang Anda alami.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-size: 16px;\"><span style=\"color: #000000;\">Berbagi perasaan Anda terkait <\/span><em><span style=\"color: #000000;\">impostor syndrome <\/span><\/em><span style=\"color: #000000;\">dapat membuat Anda tidak terlalu merasa kewalahan.<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-size: 16px;\"><span style=\"color: #000000;\">Membuka diri kepada rekan kerja terkait apa yang Anda rasakan mendorong mereka untuk melakukan hal yang sama, dan membantu Anda menyadari bahwa Anda tidak sendirian ketika mengalami <\/span><em><span style=\"color: #000000;\">impostor syndrome<\/span><\/em><span style=\"color: #000000;\">.<\/span><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">2. Membangun koneksi<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Hindari untuk melakukan semua pekerjaan sendiri saja. Tapi beralihlah dengan meminta bantuan kepada rekan kerja Anda untuk menciptakan jaringan rekan kerja yang saling mendukung satu sama lain. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Perlu Anda ingat, Anda tidak dapat mencapai semuanya sendirian, tapi jaringan yang Anda buat dapat melakukan hal-hal berikut ini:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Ingat, Anda tidak dapat mencapai semuanya sendirian. Jaringan Anda dapat:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"color: #000000;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-size: 16px; color: #000000;\">Menawarkan bimbingan dan dukungan<\/span><\/li>\n<li style=\"color: #000000;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-size: 16px; color: #000000;\">Memvalidasi kelebihan Anda<\/span><\/li>\n<li style=\"color: #000000;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-size: 16px; color: #000000;\">Mendorong upaya Anda untuk berkembang<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Berbagi perasaan <em>impostor syndrome <\/em>juga dapat membantu orang lain untuk merasa di posisi yang Anda alami, sehingga Anda tidak merasa sendirian. Hal ini juga menciptakan peluang untuk berbagi strategi dalam mengatasi perasaan dan tantangan yang mungkin Anda temui.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">3. Tantanglah Keraguan Anda<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Saat perasaan <em>impostor syndrome <\/em>muncul, tanyakan diri Anda sendiri, apakah ada hal objektif yang mendukung perasaan Anda. Kemudian, carilah hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk melawannya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Misalnya, Anda sedang mempertimbangkan untuk naik jabatan, tapi Anda tidak yakin apakah kemampuan Anda dapat memenuhi tanggung jawab yang baru. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Bisa jadi hal ini terjadi karena Anda melakukan kesalahan kecil dalam tanggung jawab sebelumnya, dan hal tersebut menghantui Anda.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Atau bisa jadi Anda mengira rekan kerja yang memuji pekerjaan Anda, kebanyakan hanya merasa kasihan. Namun, jika Anda menerima dorongan dan validasi dari rekan kerja terkait pencapaian Anda, hal itu merupakan pertanda baik. Ini menunjukkan bahwa Anda melakukan banyak hal dengan benar dan pantas untuk naik jabatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">4. Hindari Membandingkan Diri dengan Orang Lain<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Setiap orang memiliki kemampuan yang unik. Anda berada di posisi Anda saat ini karena seseorang mengenali bakat dan potensi yang Anda miliki. Mungkin Anda tidak unggul dalam setiap hal yang Anda kerjakan, tapi bukan berarti Anda harus mahir di segala bidang.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Hampir tidak ada orang yang mampu melakukan segalanya dengan baik. Bahkan ketika ada seseorang yang mungkin Anda lihat mampu menjadi ahli di berbagai bidang yang ditekuninya, bisa jadi Anda tidak tahu cerita di balik kemampuannya. Bisa jadi ia mengalami banyak kegagalan terlebih dahulu, sebelum akhirnya mampu mengerjakan berbagai macam hal dengan baik.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Tidak apa-apa jika Anda membutuhkan waktu lebih lama untuk menguasai sesuatu kemampuan, bahkan jika rekan kerja Anda tampaknya sudah menguasai kemampuan tersebut dalam waktu yang lebih singkat.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Alih-alih membandingkan pencapaian Anda dengan orang lain, pertimbangkan untuk mencari cara agar Anda dapat mengembangkan kemampuan yang Anda minati.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Memiliki standar sendiri dan bekerja keras untuk meraih pencapaian adalah hal yang baik dalam dunia kerja. Namun hindarilah diri Anda terlena di dalamnya hingga mengalami <em>impostor syndrome<\/em>.<\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"font-size: 16px;\">Baca Juga: <a href=\"\/blog\/overthinking-artinya\" rel=\"noopener\">Cara Mengatasi Overthinking Dalam Dunia Kerja<\/a><\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Demikian pembahasan mengenai impostor syndrome yang sangat memengaruhi kehidupan di dunia kerja, serta bagaimana cara mengatasinya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Salah satu hal yang dapat membantu Anda agar tidak mengalami kondisi impostor syndrome adalah mengikuti <span style=\"font-weight: bold;\">pelatihan bersama para expert <\/span><span style=\"font-weight: normal;\">di <span style=\"font-weight: bold;\">Ruangguru for Business<\/span><span style=\"font-weight: normal;\"> by Ruang Kerja<\/span><\/span>. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Di sana, kamu bisa mendapatkan banyak insight untuk menjadi seseorang yang lebih yakin dan penuh percaya diri. Untuk itu, gabung sekarang juga!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 16px;\"><a class=\"rg-cta\" style=\"text-align: center;\" href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/bisnis\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/cta\/6c763aac-e3e5-48bf-be4a-7e5f5ec1d42f.jpeg\" alt=\"[IDN] CTA Tengah 2 Blog Ruangkerja Pelatihan Efektif RGFB\" width=\"820\" height=\"200\" \/><\/a><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Referensi<\/strong>:<\/p>\n<p>Cuncic, Arlin. 2022. What Is Imposter Syndrome? (online) https:\/\/www.verywellmind.com\/imposter-syndrome-and-social-anxiety-disorder-4156469 [accessed on 16 Maret 2023]<\/p>\n<p>Alodokter. ND. Mengenal Imposter Syndrome dan Cara Menghadapinya (online) https:\/\/www.alodokter.com\/mengenal-imposter-syndrome-dan-cara-menghadapinya [accessed on 16 Maret 2023]<\/p>\n<p>Raypole, Crystal. 2021. You\u2019re Not a Fraud. Here\u2019s How to Recognize and Overcome Imposter Syndrome (online) https:\/\/www.healthline.com\/health\/mental-health\/imposter-syndrome [accessed on 16 Maret 2023]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang dengan impostor syndrome sering merasa tidak aman, khawatir akan terbongkar sebagai &#8220;penipu&#8221; atau &#8220;palsu&#8221;, dan cenderung meremehkan prestasi mereka sendiri. Di dunia kerja, impostor syndrome akan sangat berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Bagaimana cara mengatasinya? &#8212;<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":43,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_knawatfibu_url":["https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/impostor-syndrome.jpg"],"_edit_lock":["1708009551:1"],"_edit_last":["1"],"_aioseo_title":[null],"_aioseo_description":["Sering meremehkan prestasi yang sudah Anda raih? Hati-hati, mungkin Anda mengalami Impostor Syndrome yang dapat memengaruhi kinerja. Ini cara mengatasinya!"],"_aioseo_keywords":[""],"_aioseo_og_title":[null],"_aioseo_og_description":[null],"_aioseo_og_article_section":[""],"_aioseo_og_article_tags":[""],"_aioseo_twitter_title":[null],"_aioseo_twitter_description":[null]},"categories":[1],"tags":[7],"class_list":["post-43","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-sdm"],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Mengenal Impostor Syndrome, Ini Bahayanya di Dunia Kerja - Informasi Seputar Dunia Kerja | Blog Ruangkerja<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengenal Impostor Syndrome, Ini Bahayanya di Dunia Kerja - Informasi Seputar Dunia Kerja | Blog Ruangkerja\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Orang dengan impostor syndrome sering merasa tidak aman, khawatir akan terbongkar sebagai &#8220;penipu&#8221; atau &#8220;palsu&#8221;, dan cenderung meremehkan prestasi mereka sendiri. Di dunia kerja, impostor syndrome akan sangat berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Bagaimana cara mengatasinya? &#8212;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Informasi Seputar Dunia Kerja | Blog Ruangkerja\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-02-16T00:32:21+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Muhammad Azka Rais\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Muhammad Azka Rais\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome\",\"url\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome\",\"name\":\"Mengenal Impostor Syndrome, Ini Bahayanya di Dunia Kerja - Informasi Seputar Dunia Kerja | Blog Ruangkerja\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/impostor-syndrome.jpg\",\"datePublished\":\"2024-02-16T00:32:21+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/#\/schema\/person\/1c6cbded6319b960ab4da36ce1162c6f\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/impostor-syndrome.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/impostor-syndrome.jpg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mengenal Impostor Syndrome, Ini Bahayanya di Dunia Kerja\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/\",\"name\":\"Informasi Seputar Dunia Kerja | Blog Ruangkerja\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/#\/schema\/person\/1c6cbded6319b960ab4da36ce1162c6f\",\"name\":\"Muhammad Azka Rais\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Muhammad Azka Rais\"},\"url\":\"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/author\/muhammad-azka-rais\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mengenal Impostor Syndrome, Ini Bahayanya di Dunia Kerja - Informasi Seputar Dunia Kerja | Blog Ruangkerja","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Mengenal Impostor Syndrome, Ini Bahayanya di Dunia Kerja - Informasi Seputar Dunia Kerja | Blog Ruangkerja","og_description":"Orang dengan impostor syndrome sering merasa tidak aman, khawatir akan terbongkar sebagai &#8220;penipu&#8221; atau &#8220;palsu&#8221;, dan cenderung meremehkan prestasi mereka sendiri. Di dunia kerja, impostor syndrome akan sangat berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Bagaimana cara mengatasinya? &#8212;","og_url":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome","og_site_name":"Informasi Seputar Dunia Kerja | Blog Ruangkerja","article_published_time":"2024-02-16T00:32:21+00:00","author":"Muhammad Azka Rais","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Muhammad Azka Rais","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome","url":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome","name":"Mengenal Impostor Syndrome, Ini Bahayanya di Dunia Kerja - Informasi Seputar Dunia Kerja | Blog Ruangkerja","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/impostor-syndrome.jpg","datePublished":"2024-02-16T00:32:21+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/#\/schema\/person\/1c6cbded6319b960ab4da36ce1162c6f"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome#primaryimage","url":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/impostor-syndrome.jpg","contentUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/impostor-syndrome.jpg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/impostor-syndrome#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengenal Impostor Syndrome, Ini Bahayanya di Dunia Kerja"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/","name":"Informasi Seputar Dunia Kerja | Blog Ruangkerja","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/#\/schema\/person\/1c6cbded6319b960ab4da36ce1162c6f","name":"Muhammad Azka Rais","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","caption":"Muhammad Azka Rais"},"url":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/author\/muhammad-azka-rais"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1570,"href":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43\/revisions\/1570"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ruangkerja.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}